Movie Review
Showing posts with label Movie Review. Show all posts

Tuesday, January 14, 2020

Bombshell: Realita Pelecehan Seksual di Lingkungan Kerja

imdb.com
Sesaat setelah nonton Bombshell, saya tergugah untuk menulis ini. Betapa miris, kenyataan yang terjadi pada perempuan di lingkungan kerja. Pelecehan seksual di tempat kerja bukan hal baru yang terjadi di dunia kerja. Entah sejak kapan, peristiwa pelecehan seksual di tempat kerja sudah terjadi.

Diangkat dari Kisah Nyata

Film Bombshell, mengangkat kisah nyata skandal seks di Fox News tahun 2016 silam yang dilakukan oleh CEO Fox News, Roy Ailes (John Lithgow) kepada sejumlah karyawan perempuannya. Sang bos menyalahgunakan otoritas yang ia miliki untuk menerapkan aturan-aturan tidak logis, contohnya, menggunakan rok mini demi mempertontonkan kaki di depan kamera.

Pelecehan yang telah berlangsung lama di balik perusahaan pertelevisian raksasa Amerika milik Rupert Murdoch itu tidak pernah terungkap ke publik hingga mantan news anchor Gretchen Carlson (Nicole Kidman) nekat angkat bicara, dan di situlah dimulai perlawanan akan tindakan sang CEO.

Berkisah Tentang Pelecehan Seksual Di Lingkungan Kerja

Mungkin kebanyakan dari kita menebak pelecehan seksual kerap terjadi di dunia kerja bidang entertainment, atau kalangan selebriti. Berkaca dari film Bombshell, pelecehan juga terjadi di lingkungan kerja profesional dimana orang-orangnya menggunakan jas rapi, lingkungan orang terpelajar, profesional, ambisius dan career oriented. Namun, balutan jas rapi tetap tidak bisa menahan hasrat seksual seseorang. Justru akhirnya balutan jas yang membungkus kekuasaan petinggi perusahaan mampu memberikan akses seksual kepada para pekerja perempuannya.

imdb.com
Pelecehan seksual yang terjadi ini berhubungan erat dengan nasib karir karyawan Fox News. Tiga tokoh utama dengan latar alasan berbeda terjebak dengan kisah seksual yang sama dengan Ailes. Selain Gretchen Carlson, ada Megyn Kelly (Charlize Theron), news anchor yang menjadi moderator debat capres 2016, dimana Megyn mencapai posisi puncak bukan tanpa pergumulan. Karirnya diancam hancur bila tak memenuhi kehendak sang bos. Lalu ada Kayla Pospisil (Margot Robbie), gadis polos dan alim yang memiliki keinginan murni belajar dan berkarir di dunia pertelevisian, jatuh juga dalam kubangan yang sama dengan Carlson dan Kelly.

Dengan menonton Bombshell, kita diajak untuk melihat sisi lain dari realita kehidupan di dunia kerja. Ada pelecehan seksual dengan berbagai bentuk, mulai dari pelecehan seksual secara verbal, melontarkan lelucon seksis, hingga pelecehan seksual fisik, baik menyentuh, meraba hingga ajakan berhubungan seksual dengan ancaman atau iming-iming.

Selain itu, ada persaingan ketat, ambisi karir, gosip-gosip dari isu ringan hingga sensitif seputar perusahaan, dan bagaimana sulitnya menjalin hubungan yang dapat dipercaya dengan rekan satu kantor. Soal pelecehan seksual, bahkan bisa dibilang ada "pembiaran" atau sikap masa bodoh, pura-pura tidak tahu dari segelintir orang yang menyadari hal ini karena merasa terintimidasi dengan berbagai risiko yang bakal dihadapi.

Pesan Moral yang Kuat

Menurut saya, film ini benar-benar memiliki pesan moral yang kuat. Film ini membuka kenyataan bagaimana sebagian perempuan masih struggle untuk bisa ada di urutan depan untuk urusan karir, dengan berbagai hal yang harus dipertaruhkan.

Pelecehan seksual bukan hal yang mudah diungkapkan oleh seorang korban. Butuh kekuatan penuh dan risiko besar yang harus diambil. Mungkin saja, dengan angkat bicara, karir seseorang seumur hidupnya dipertaruhkan. Namun lewat Gretchen Carlson, kiranya kaum perempuan dikuatkan untuk berani bertindak untuk bicara atas kasus pelecehan seksual yang dialami, atau berani menolak tanpa merasa diintimidasi oleh rekan kerja atau atasan yang bermaksud melakukan pelecehan seksual. 

Bombshell juga sekaligus sebagai pengingat bahwa setiap orang berhak meraih peluang karir cemerlang tanpa harus mengorbankan hal yang paling berharga dalam hidupnya.

Recommended untuk ditonton? Buat saya sih, yes!

Personal score: 7/10.

Monday, November 25, 2019

Ford v Ferrari, Kisah Nyata Dunia Balap Mobil

Ford v Ferrari (indiewire.com)
Weekend kemarin saya nonton Ford v Ferrari. Why? Simpel, yang main Matt Damon, aktor favorit akuh. Murahan? Oyeaaa.. saya tipe orang yang nonton film tanpa nonton trailernya dulu atau cek ratenya. Selama aktornya favorit saya dan kira-kira lihat posternya bakal menarik (cetek bgt ya?!), saya pasti pilih itu duluan.

So, setelah nonton, nyesel ngga? Not a chance! Buat saya yang ngga paham dunia balap mobil, saya dipuaskan dengan histori yang ada di film Ford v Ferrari ini. Meskipun, kalo kamu mau compare review-review film yang lebih kritis lagi tentang film ini, mungkin review saya ngga ada apa-apanya, karena jujur saya ngga menguasai sejarahnya. Namun, setelah selesai nonton, saya coba baca-baca sedikit histori film ini. However, saya terhibur, karena itu saya tergerak buat mereview film ini.

Ford v Ferrari terletak pada dua inti cerita: yang pertama, persahabatan dua orang yaitu pembalap top pada masanya Ken Miles (Christian Bale) dan ex pembalap, Carroll Shelby (Matt Damon) yang kemudian jadi perancang mobil. Kisah persahabatannya kental banget, dan dikemas fun dan menyentuh. Kedua, tentang Ford dengan egonya mencoba untuk mengalahkan eksistensi Ferrari sebagai champion di dunia balap mobil. Kesombongan dan kapitalisme industri mobil Amerika ini cukup menonjol. Lagi-lagi saya jadi lumayan paham: ooh gini tho persaingan di industri mobil. Saya juga jadi sedikit paham karakter produsen mobil Eropa dan Amerika, meski ngga serta-merta bisa dijadikan patokan ya.

Kisah persahabatan yang maskulin banget, meski asik, nggak jarang saling tarik urat sampe tarik otot (rappler.com).
Film ini durasinya cukup lama, itu juga salah satu alasan saya dalam memilih film yang mau saya tonton. Karena seringkali di dalam durasi yang lama itu, tampak kepiawaian si sutradara dan scriptwriternya dalam meracik adegan dan dialog yang enak banget dinikmati. Dan di film ini, dialog-dialognya ngga ngebosenin, jokesnya ada, sarkasnya dapet, asik!

Latar belakang film ini yaitu Balapan 24 jam Le Mans tahun 1966. Sebetulnya background filmnya sedikit kurang tua, tahun 60an rasa 90an, yang terlihat 60an hanya mobil-mobilnya aja. Tapi buat saya ga jadi masalah.

Nah, buat kamu yang mau menikmati sejarah dua orang yang punya andil besar dalam kesuksesan Ford merebut posisi Ferrari di arena balap, yaitu si pembalap Ken Miles, dan si perancang andalan Ford GT40, Carroll Shelby, film ini bisa jadi hiburan tepat saat pulang kantor atau weekend. Selamat menonton!

My personal score would be 8/10 for this movie.

Baca review lainnya:
Black Panther
John Wick II

Thursday, February 22, 2018

Review Film: Black Panther, Selamat Datang Superhero Terbaru Marvel di Layar Lebar

Black Panther movie (citymetric.com)
Helloooo 2018!

Banyak film yang udah ditonton dan dilewatkan untuk direview sejak review film terakhir John Wick, satu tahun lalu!

Sore ini saya movie date sama suami, dari pacaran kita paling seneng nonton film. Sampe sekarang, ngedate paling gampang, ngga makan waktu lama tapi enjoyable dan cukup buat refreshing sejenak buat saya dan suami itu ya nonton film di bioskop. Sebagai sesama pecinta film Hollywood action, thriller, dan sejenisnya, pilihan film saat nonton di bioskop memang selalu jatuh pada genre ini. Tapi bukannya anti genre film lainnya lho yaa. Suka juga kok dengan film genre lain, bahkan film Indonesia :)

Bulan lalu, setelah lihat trailer Black Panther, langsung film ini dimasukkan dalam next movie shopping list. Pas udah tayang, menggebu-gebu banget pengen cepet-cepet nonton karena di trailer rasanya film itu keren banget karena beberapa alasan:
1. Latarnya Afrika, which is jarang. Yang sudah-sudah, Marvel Superheroes kebanyakan berasal dari Amerika, sangat western.
2. Menambah deret karakter Marvel berbasis binatang. Dan Black Panther ini terkesan kuat, kokoh, keren.
3. Di trailer, saya merasa "jagoan" yang dimunculkan tuh ngga to the point, jadi bikin penasaran.

Ekspektasi saya cukup tinggi sama film ini. Saya merasa bakal puas banget. Untuk poin 1 dan 2, dapet banget. Budaya dan ritual Afrikanya melekat banget dalam film ini. Plus logat Afrikanya itu seru, ngomong bahasa Inggris dengan aksen Afrika, so cool. Banyak juga percakapan dalam bahasa "Afrika" meski ngga tau itu betulan bahasa Afrika atau ngga (maklum ngga pernah belajar bahasa Afrika).

Tapi untuk poin 3, ternyata unsur kejutannya ngga seperti yang diharapkan. Semua langsung dijembreng di awal. Meskipun ada bedanya dengan superhero berkarakter binatang lainnya seperti Spiderman atau Antman yang proses penjelmaan jadi superhero biasanya karena kegigit hewan tersebut atau dari penelitian. Kalo ini ngga neko-neko, bila seseorang dinobatkan menjadi Raja Wakanda ya otomatis jadi Black Panther.

Intisari cerita ini sebetulnya bagus, dimana Wakanda, negeri yang super kaya dengan vibranium ini menyembunyikan kekayaan negerinya karena takut disalahgunakan oleh negara lain, karena prinsip negeri ini sesimpel menjaga kedamaian negeri dan ngga mau terlibat dengan konflik-konflik di luar negeri. Sayang, adegan actionnya menurut saya kurang epik. Adegan action yang paling saya suka yaitu waktu di Busan, Korea.
Sumber: nytimes.com
Film ini mengambil tempat di wilayah asal Black Panther, konfliknya masih di lingkup negeri Wakanda, belum keluar dari situ. Seperti Thor di awal yang latarnya full di Asgar (asli garut, eh) Asgard dan belum keluar dari Asgard. Tebakan saya, Black Panther nantinya akan jadi seperti Thor juga, keluar dari Wakanda, bergabung dengan negara lainnya to save the world. Ini hanya permulaan aja, jadi urusannya masih ngeberesin konflik internal.

Intinya adalah, kesan yang saya dapet nonton film ini kayak waktu Nonton Wonder Woman. Gal Gadot actingnya keren banget, tapi aksi laganya kurang epik. Karakter T'Challa itu kuat banget, dan Chadwick Boseman memerankan karakter T'Challa dan Black Panther tanpa cacat. Tapi aksi-aksinya belum begitu mengesankan buat saya. Namun secara keseluruhan, film ini tetap menghibur. Memang ngga bisa expect banyak karena film ini baru awal. Di sekuel berikutnya pasti lebih banyak kejutan yang lebih keren.

Maaf lho, reviewnya susah banget buat ngindarin spoiler :D

My personal score for this movie: 6/10.

Thursday, February 16, 2017

Review Film: John Wick: Chapter 2


Film action yang merupakan sekuel dari John Wick (2014) ini sedikit berbeda dari biasanya. Kalau pada umumnya jagoan dalam film action terlihat fit, gagah, well-prepared dan sebagainya, tidak untuk tokoh John di film John Wick: Chapter 2.

Ada sisi rapuh, bimbang dan emosional di balik seorang John Wick (Keanu Reeves) yang kejam dan sporadis saat istrinya ditinggal mati di kisah sebelumnya. Kamu ngga akan menemukan adegan baku hantam yang elegan seperti aksi laga di film xXx: Return of Xander Cage atau aksi Milla Jovovich di filmnya baru-baru ini. Tak juga di film-film dengan tokoh agen CIA dengan gerakan-gerakan fisik yang epik: seperti melompat di atas kereta yang sedang berjalan atau berlari di dinding lalu melayangkan tendangan ke arah lawan.

Selain Keanu Reeves, penonton cukup dimanjakan dengan kehadiran beberapa aktor kawakan lainnya seperti Ian McShane, pemeran tokoh Winston, yang sebelumnya juga hadir di sekuel John Wick yang pertama; dan Laurence Fishburne. Ada juga Peter Serafinowicz, dan Ruby Rose. Aktris yang terakhir ini tampaknya sedang berkibar. Terbukti dia tampil berturut-turut di dua film laga lainnya yang belum lama diputar di bioskop: xXx: Return of Xander Cage dan Resident Evil: The Final Chapter.

John Wick: Chapter 2 masih disutradai oleh Chad Stahelski dan ditulis oleh Derek Kolstad. Film produksi Thunder Road Pictures dan 87Eleven Productions ini meraup keuntungan sebesar $30,436,123.00 dalam waktu 1 minggu sejak film dirilis.

Film bergenre action, crime dan thriller ini memberikan wawasan tentang cara-cara operasi sebuah organisasi pembunuh bayaran internasional. Selama 122 menit, kamu ngga akan sempat untuk berkedip dan menunggu aksi selanjutnya, karena adegan laga disajikan bertubi-tubi. Cocok bagi pecinta film action seperti kamu. So, recommended!

Kalau sudah nonton, share pendapat kamu di komen tentang film ini, ya! Sekali lagi, selamat menonton.

Personal score: 7/10

Baca juga review film lainnya: 

Monday, February 6, 2017

Review Film: Resident Evil: The Final Chapter

www.21cineplex.com
Zombie adalah bagian penting yang sudah melekat dan tak mungkin dimusnahkan dalam rangkaian film Resident Evil, tak terkecuali Resident Evil: The Final Chapter.

Bagi kamu yang tidak mengikuti film-film Resident Evil sebelumnya, tidak akan menemui kesulitan untuk mengikuti jalan cerita di chapter kali ini.

Masih diwarnai dengan aksi "gagah" Alicia (Milla Jovovich), adegan-adegan dalam film ini tidak meleset dari genre-nya yaitu action, horor dan sci-fi. Tak perlu banyak dialog. Horornya terasa saat Alice menebas tangan Dr. Isaac (Iain Glen). Sentuhan sci-fi saat Alice meloloskan diri dari senjata laser juga cukup berkesan. Untuk actionnya, tidak perlu diragukan lagi. 90% adegan dalam film ini dipenuhi dengan action fisik, tembak-menembak hingga kejar-kejaran.

Sebetulnya saya bukan penyuka film dengan tema zombie dan sejenisnya, namun saya cukup menikmati film ini, karena yang menjadi urusan besar dalam cerita film adalah tentang perebutan antivirus T-virus untuk menyelamatkan populasi manusia di bumi, sehingga kehadiran zombie di sini tidak menjadi dominan.

Kalau kamu mencari adrenalin rush dalam menonton, tunggu apalagi, segera tonton film ini di bioskop terdekat.

Personal score: 6/10

Thursday, January 26, 2017

Review Film: xXx: Return of Xander Cage

xXx: Return of Xander Cage

Kalo kamu fans berat Vin Diesel dan Fast & Furious, bisa mengira-ngira dong kira-kira kayak gimana aksi aktor berkepala plontos ini dalam film-film action lainnya?

Yap, ga beda jauh aksi dia di film action Fast & Furious dengan di film xXx: Return of Xander Cage ini. Bedanya, yang satu pakai mobil berteknologi balap, kalau ini dengan tangan kosong, aka, action biasa.

Di awal-awal, aksi laga Xiang (Donnie Yen), Serena (Deepika Padukone) and the gank sih menghibur banget, kecepatan tangan, mata, gerak dalam mencuri kotak Pandora, patut diacungi jempol. Apalagi saat Talon (Tony Jaa) beraksi merebut motor lawan dengan cara yang nggak biasa.

Setelah aksi itu, saya masih terhibur dengan gaya nyeleneh Xander (Vin Diesel) yang mencuri semacam dekoder dari gardu listrik, kabur pake ski melintasi hutan, naik skateboard, demi memasang dekoder itu di suatu tempat agar televisi-televisi di wilayah tersebut bisa menikmati siaran langsung sepakbola.

Namun lepas dari aksi-aksi itu, jalan cerita selanjutnya udah bisa ditebak sendiri. Merekrut tim sendiri, kerja pake gaya sendiri, pengkhianatan pihak pemerintah, dan seterusnya. Secara keseluruhan film ini sih Vin Diesel banget. Ngga ada hal baru yang bikin wow.

Kita tunggu saja aksi aktor botak ini di film berikutnya: Fast & Furious 8, semoga lebih menghibur.

Personal score: 6/10

Saturday, January 7, 2017

Movie Review: Great Wall; Great Pleasure

Film Great Wall, Januari 2017 (21cineplex)
Ini yang dinamakan cinta buta.

Berhubung ngefans berat seberat bola meriam dengan aktor yang ngga ganteng-ganteng amat tapi bagi saya sungguh memesona ini, si kang Mas Damon (begitu saya panggilnya, padahal nama aslinya Matt Damon), yang merupakan aktor utama di dalam film Great Wall, menjadi fokus utama saya untuk memutuskan nonton film ini.

Apalagi saat lihat di poster yang terpampang di bioskop, kawan mainnya (saya ga bilang lawan main, karena di film ini mereka akur) yaitu Andy Lau, saya membayangkan kombinasi barat dan timur dalam satu film itu biasanya apik.

Benar saja, saya sangat menikmati setiap adegan di film pertama yang saya tonton di tahun 2017 ini. Visualnya begitu megah, keperkasaan tembok Cina diekspos sedemikian rupa sehingga membuat kagum. Teknologi persenjataan modern di film era digital memang keren, namun persenjataan tradisional dan strategi perang dalam film berlatar era dinasti Cina tak kalah apik. Tak hanya itu, barisan prajurit tembok Cina dari level bawah hingga Jendralnya yang ditandai dengan warna kostum perang dan keahliannya juga menjadi detil tersendiri. Belum lagi formasi barisan yang dibentuk saat bersiap perang, sangat menarik.

Film kolosal bergenre action, fantasy dan adventure tak lupa mengedepankan aksi-aksi yang menghibur: kepiawaian William dan Tovar dalam memanah, kelihaian Lin menerjang monster dengan tombak bertali, serta keahlian strategi perang dari Wang.

Di luar itu semua, dari segi jalan cerita, bagi saya film ini terlalu sederhana, kurang kompleks. Namun biasanya ini yang terjadi pada film yang menggunakan tokoh monster sebagai lawan. Imajinasi tentang legenda tembok Cina rasanya kurang historis. Biarpun demikian, secara keseluruhan, saya menikmati sekali film ini karena dua hal: visual (CGI) yang epik, serta action yang seru. Eh tiga ding, satu lagi karena kang Mas Damon tentunya (maafkan kalo anda mual bacanya, hahaha).

Penasaran? Yuk ditonton filmnya, jangan lupa share di komen pendapat kamu tentang film ini :)

Personal score: 7/10

Tuesday, November 8, 2016

Review Film: IT

Film IT, 2016
Saat melihat deretan film "Now Showing" di bioskop, pasti kita lihat siapa aktor/aktrisnya dulu, baru nentuin film mana yang mau ditonton.

Itu juga yang saya lakukan saat memutuskan nonton film IT. Karena ada si kakek charming Pierce Brosnan di sana, dan melihat genre filmnya misteri, crime dan drama (gapapa deh bukan film action, sepanjang ada misteri/crime-nya), maka saya beli tiketnya.

Di adegan awal masih asik dilihat, hingga Mike Regan melakukan presentasi Omni. Saya berharap di film tersebut banyak melihat adegan teknologi app untuk memesan pesawat jet pribadi bagaikan Uber (berhubung itu yang digaung-gaungkan sejak di awal film). Tapiiiiiiiiiii ternyata jauh banget dari apa yang saya harapkan.

I'm so sorry granpa Brosnan, but it was not what I expected to watch. Biasa banget, ngga ada kejutan apa-apa, ngga keren-keren amat juga teknologinya. Alur cerita juga drama biasa. Tapi kalo akting si opa sih ga usah diragukan lah ya. Saya hanya merasa Pierce Brosnan seperti terjebak dalam film yang bukan kelasnya (maaf ini bukan sok-sok kritikus film, saya mah apa atuh).

Tapi saya akui, saya punya kebiasaan jelek ga pernah cek trailer atau review film sebelum nonton. Saya selalu nonton berdasarkan pandangan mata dan kepengennya apa saat itu. Jadi kalo hasilnya begini ya ga salah opa juga lah ya.

Personal score: 4/10

Tuesday, June 30, 2015

Terminator: Genesys, Tetap Prima Di Usia Tua

Pic: www.cinemaxxtheater.com
Senang rasanya kembali menyaksikan Arnold Schwarzenegger berlaga di film Terminator sekuel kelima ini, Terminator: Genesys. Sesuai dengan usia bintang utama yang semakin tua, robot  T-800 di film ini pun tampak tua dengan kulit yang mengeriput.

Adalah John Connor (Jason Clarke), pemimpin umat manusia yang berjuang menghancurkan Skynet yang telah memporakporandakan bumi beserta umatnya. Demi mengembalikan peradaban manusia, John memimpin sisa umat lainnya dalam perang melawan pasukan mesin Skynet. Kyle Reese (Jai Courtney), anak buah yang diselamatkannya dari serangan Skynet, ditugaskan untuk kembali ke tahun 1984 untuk menyelamatkan ibunya, Sarah Connor (Emilia Clarke) dari incaran Skynet. Alur ceritanya cukup rumit dan maju mundur karena menggabungkan beberapa rentang waktu. Kejadian tak terduga antara lain ketika Sarah Connor yang ingin diselamatkan oleh Kyle Reese rupanya bukanlah seorang pelayan restoran, namun pejuang tangguh yang survive sejak usia 9 tahun ketika Terminator membunuh keluarganya. Sejak itu, T-800 (Arnold Schwarzenegger), menjadi pengawal setianya. Kejutan lain yaitu bahwa ternyata Kyle Reese adalah ayah dari John Connor. Dan kejutan terakhir adalah ketika John Connor sang pejuang umat manusia berubah karakter dari seorang pahlawan menjadi salah satu pasukan mesin Skynet terkuat dan tercanggih yang pada akhirnya berbalik menyerang Sarah dan Kyle.

Alurnya rumit, dan ini hal yang paling menghibur bagi saya untuk sebuah film, sehingga film tidak monoton. Bumbu adegan-adegan kocak ala robot juga cukup mewarnai film ini. Adegan actionnya lumayan terutama pada saat pertarungan yang melibatkan T-1000, the liquid metal. Yang mengesankan adalah Arnold Schwarzenegger yang mulai menua, disesuaikan dengan usia Arnold saat ini (67 tahun). Wujud manusia Arnold tua seperti usia mesinnya. Namun di usia mesin yang sudah uzur itu, aksi "Terminator baik hati" ini tetap prima.

Akting Jason Clarke mengesankan, dua peran dikuasai sekaligus, dari karakter penyelamat manusia hingga berubah drastis menjadi bengis. Sementara akting Jai Courtney biasa saja, mungkin karena karakter tokoh yang dimainkan memang tidak terlalu menonjol. Untuk seorang wanita pejuang tangguh, postur Emilia Clarke kurang mewakili. Akting Arnold Schwarzenegger tidak perlu diragukan lagi.

Menit pertama hingga pertengahan film masih menarik, namun di pertengahan film hingga selesai sudah hampir tidak ada kejutan lagi dan cenderung membosankan. Biar bagaimanapun aksi Arnold Schwarzenegger dapat mengobati penonton setianya yang sudah rindu dengan kehadirannya di layar kaca.

Personal score: 7/10

.cis.

Tuesday, June 23, 2015

Minions, Tetap Lucu


Secara konsisten, Minions, yang merupakan spin-off dari Despicable Me, tetap lucu seperti dua film berbintang utama makhluk kuning mini sebelumnya. Alur ceritanya mundur ke masa puluhan tahun silam sebelum para Minions bertemu dengan Gru. Di masa itu digambarkan bagaimana para Minions mencari bos super jahat untuk menjadi pemimpin mereka. Tanpa seorang bos, hidup mereka tak ada gairah. Beberapa bos pendahulunya dari dinosaurus hingga beruang, tidak bertahan lama. Hal itu mendorong wakil Minions, Kevin, Stuart dan Bob untuk mencari bos yang sesungguhnya, the super villain. Pencarian tersebut membawa mereka sampai ke Orlando, ke perkumpulan penjahat kelas kakap dimana akhirnya para Minions sukses menjadi anak buah Scarlet Overkill (Sandra Bullock), the super villain wanita paling ditakuti di dunia.

Salah satu aksi lucu terjadi pada saat Minions mengerjakan tugas pertama dari Scarlet yaitu mencuri mahkota Queen Elizabeth. Selanjutnya, akhir cerita bisa ditebak. Sudah pasti film kartun komedi seperti ini alurnya dibuat ringan dan sederhana dengan adegan humor yang lebih menonjol, meski tidak selamanya adegan-adegan tersebut membuat terpingkal. Ada kalanya penonton dibuat senyum saja. Biar bagaimanapun, film ini tetap menghibur karena makhluk ciptaan Pierre Coffin ini memiliki karakter natural yang kuat, baik dari tingkah laku maupun suara.

Kejutan di film minion ini adalah bahasa Indonesia yang digunakan dalam bahasa Minions terdengar jelas. Ada kata 'kemari' dan 'terima kasih' dalam dialognya. Suatu kebanggaan tersendiri mendengar bahasa Indonesia dipakai di film Hollywood, mengingat bahasa Indonesia bukan bahasa internasional.

Silahkan ditonton untuk mengetahui cerita lengkapnya.

Personal score: 7/10
.cis.

Saturday, June 13, 2015

Jurassic World, Highly Recommended.

www.cinemaxxtheater.com
Mendebarkan. Dari awal trailer film Jurassic World muncul, saya bertekad menontonnya. Sesuai ekspektasi saya, ketegangan dalam film ini memuaskan hasrat nonton saya. Jujur saya ga nonton Jurassic Park sekuel sebelumnya, karena sebetulnya saya bukan penyuka film berbintang utama binatang karena biasanya plotnya mudah ditebak. Meski demikian, rasanya film ini memiliki alur ceritanya sendiri (walaupun tetap mudah ditebak juga) dan bisa dinikmati tanpa perlu flash back ke film pertama yang diputar 22 tahun lalu.

Jurassic World merupakan sebuah taman raksasa yang mengagumkan. Terletak di sebuah pulau, taman Jurassic World memamerkan spesies binatang pra-sejarah dinosaurus dan keluarganya dengan atraksi menarik. Taman super mewah ini memungkinkan pengunjung menikmati pengalaman langsung berinteraksi dengan hewan yang sudah punah sejak lama. Jumlah pengunjung Jurassic World meningkat setiap tahunnya. Namun demikian, pemilik taman, Simon Masrani (Irrfan Khan), yang berhasil mewujudkan impian Hammond, penggagas Jurassic Park, tidak mau mengambil risiko merosotnya jumlah pengunjung sehingga dia mengingkan adanya bintang baru di Jurassic World. Indominus rex, keluarga baru dinosaurus hasil rekayasa genetik ilmuwan Jurassic World, Henry Wu (BD Wong) yang memiliki DNA antara lain raptor dan T-rex, ternyata bukan jenis biasa. Hewan ini didesain lebih kuat, lebih menyeramkan, berjumlah gigi banyak, serta dapat mengkamuflase dirinya sendiri. Akhirnya diketahuilah bahwa binatang ini memiliki sifat sangat buas dan berbahaya. Dua pengunjung kakak-beradik Zach (Nick Robinson) dan Gray (Ty Simpkins) terjebak dalam aksi menyelamatkan diri dari binatang buas yang lepas dari kandangnya itu, dan kemudian ditolong oleh bibinya yang kebetulan adalah kepala operasional taman Jurassic World, Claire Dearing (Bryce Dallas Howard) dan pawang raptor, Owen Grady (Chris Pratt).

Taman Jurassic World membawa penonton berimajinasi untuk menyaksikan hewan-hewan yang tak pernah dan tak mungkin lagi dapat disaksikan. Beberapa jenis dinosaurus jinak yang dapat bermain-main dengan anak-anak membuat saya tersenyum betapa hewan tersebut lucu dan seperti memiliki rasa sayang terhadap manusia. Teknologi canggih bergaya futuristik juga menjadi hiasan menawan film yang disutradarai Colin Trevorrow ini. Sekedar info tambahan, Stephen Spielberg bertugas menjadi Executive Producer di sekuel keempat ini, dan dia hanya menyutradarai sekuel 1 dan 2.

Ada pesan moral yang saya petik dari film thrilling sci-fi ini: bahwa manusia dengan akal dan kecerdasannya dengan mudahnya mencipta lalu memusnahkan begitu saja sebuah makhluk hidup hanya demi ego. Dalam hal ini hewan yang adalah makhluk hidup tak berakal budi, hanya menjadi korban keserakahan manusia. Wew, saya kayaknya kebawa perasaan ya hahaha.. akibat terlalu menghayati jalan cerita.

Well, biar ga penasaran, tonton aja film ini. Film ini lagi ramai diputar di bioskop hingga rata-rata per bioskop menjatah dua studio khusus film ini saja.

Personal score: 7/10

.cis.

Thursday, June 4, 2015

Pitch Perfect 2: Nonton, Nyanyi, Ketawa

Picture: www.billboard.com/Richard Cartwright
Seru! Kebetulan saya suka nyanyi atau paduan suara, jadi mungkin lebih mudah buat saya untuk menyukai film ini. Ditambah banyak adegan humor yang segar bergaya anak kuliahan, menjadikan Pitch Perfect 2 film yang saya rekomendasi untuk ditonton.

Membawa genre drama komedi musikal, alur film ini sederhana dan ringan, dan tentunya mudah ditebak. Tidak perlu banyak mikir, tinggal duduk manis dan selamat menikmati kelucuan demi kelucuan di film ini. Ceritanya mengandung drama, konflik, humor, ketegangan dan harmoni dalam bernyanyi yang dikemas apik. Lagu-lagu yang dinyanyikan antara lain Run The World (Girls) milik Beyonce, Wrecking Ball (Miley Cyrus), dan sederet lagu hits lainnya.

Masih dibintangi pemain sebelumnya di Pitch Perfect sekuel pertama, Anna Kendrick yang berperan sebagai Beca, Britanny Snow (Chloe) dan Rebel Wilson (Fat Amy) dengan beberapa pemain baru antara lain Hailee Stanfeild sebagai Emily Junk yang merupakan keturunan The Barden Bellas dimana ibunya merupakan anggota terdahulu grup akapela ini.

Meski plotnya tidak terlalu berbobot, namun kehadiran Das Sound Machine sebagai grup akapela yang cadas dan sangat harmonis sebagai lawan The Bellas cukup memberi kejutan yang menghibur. Kehadiran Adam Levine di akhir film, dengan setting kontes The Voice juga mewarnai film ini.

Bagi yang ga suka film berat, film ini layak ditonton.

Personal score: 6/10

.cis.

Monday, May 25, 2015

Wajib Tonton: SPY, A Hilarious Action Movie!

Picture: www.cinemaxxtheater.com
Love it! Kehadiran Spy yang merupakan kombinasi menarik antara action dan comedy ini menyegarkan industri perfilman yang belakangan marak akan film action. Sebut saja Mad Max, Avengers: The Age Of Ultron, dan Fast & Furious 7. Sisi komedinya begitu menghibur, cocok untuk melepas lelah atau stres selepas bekerja. Anda tidak akan berhenti tertawa dibuatnya.

Tingkah polah Susan Cooper (Melissa Mccarthy) sebagai analis CIA yang nekat mengemban tugas mulia untuk menggagalkan penjualan senjata nuklir ilegal patut diacungi jempol. Penyamarannya untuk menyusup ke dunia perdagangan senjata yang berbahaya sukses secara tidak terduga, membuat agen-agen seniornya Bradley Ford yang diperankan oleh Jude Law dan Rick Ford (Jason Statham) salut kepadanya.

Kemasan komedi di dalam film bergenre action ini takarannya seimbang, 50:50, dengan alur cerita yang sederhana namun cukup berbobot, meski mudah ditebak. Susan selalu mendapatkan identitas penyamaran yang kurang menarik lantaran bentuk tubuhnya yang gemuk. Ini salah satu adegan yang membuat terpingkal. Belum lagi tingkah Rick Ford sebagai agen senior yang terlalu percaya diri sehingga membuatnya terlihat bodoh. Agen genit bernama Aldo (Peter Serafinowicz) juga menyemarakkan suasana penyamaran dan pengejaran musuh. Analis CIA lain, Nancy (Miranda Hart) pun menambah kelucuan film parodi James Bond ini sebagai agen kikuk.

Selain dibintangi aktor dan aktris komedi, Spy semakin dilengkapi dengan aksi wanita cantik Rose Byrne, Morena Baccarin serta Nargis Fakhri.

Personal score: 7/10

.cis.

Tuesday, May 19, 2015

Mad Max: Fury Road, the fourth sequel after 30 years

Picture taken from www.cinemaxxtheater.com
I'm a big fan of action movies, really. Tapi untuk Mad Max, saya ga bisa jatuh cinta. Alurnya memang sederhana dan cukup jelas, menceritakan kehidupan di wasteland (tanah buangan) yang berlatar padang pasir dan hampir tidak ada suplai untuk kehidupan. Namun satu wilayah yang dipimpin oleh Immortan Joe, memiliki sumber minyak, sayuran, air, dan sebagainya dari hasil menjarah. Wilayah tersebut merupakan satu-satunya wilayah yang paling memungkinkan untuk hidup. Namun kehidupan di sana tidak sesempurna yang dibayangkan. Hal-hal yang tidak manusiawi terjadi di sana sehingga membuat Furiosa memberontak dan meninggalkan negeri itu, dimana akhirnya Mad Max bersekutu dengan Furiosa untuk mewujudkan harapan hidup yang baru.

Latar belakang padang pasir bagi saya membosankan, dan science fictionnya tidak menonjol, well, mungkin karena film ini menonjolkan action-nya. Tokoh pemain musik di saat pengejaran yang digambarkan sebagai pemacu semangat tempur rasanya konyol buat saya. Lucu, hampir ga ada artinya. Mungkin itu bumbu pemanisnya. Namun Charlize Theron berhasil memerankan wanita berkarakter kuat dan perkasa sebagai Furiosa.

Bingung mau bilang apa lagi, berhubung ga terlalu suka filmnya, jadi ga banyak yang bisa saya ceritakan. Untuk kategori movie review di blog saya ini, isinya benar-benar subjektif sesuai dengan selera film saya. Saya tidak menilai dari sisi lainnya karena saya bukan kritikus film profesional. Jadi, silahkan coba tonton film Mad Max yang menurut situs review film ternama di Amerika, film ini tetap bagus dengan rating 8.8 dari 10, setelah sequelnya yang terakhir 30 tahun lalu. Mad Max 1, 2, 3 dibintangi oleh Mel Gibson, dan ini adalah film Mad Max pertama yang tidak dibintangi Mel Gibson.

Personal score: 6/10

.cis.


Tuesday, April 28, 2015

Avengers: Age of Ultron, full action, less surprise.

Picture taken from www.cinemaxxtheater.com
Ngga banyak kejutan di film Avengers sequel kedua ini. Dari segi alur agak biasa: penciptaan robot canggih untuk menjaga kedamaian. salah formula, lalu menjadi robot jahat yang mampu berpikir, bukan robot yang sekedar untuk dikendalikan. Ultron, robot penghancur peradaban manusia yang menganggap manusia sebagai penyebab kehancuran bumi, berniat membawa kedamaian, namun kedamaian dalam versinya sendiri (baca: kehancuran). Lalu robot jahat bernama Ultron ini berevolusi untuk membasmi bumi.

Adegan perpecahan di tubuh Avengers juga terjadi di film kali ini. Perbedaan pendapat, saling tuding, saling menyalahkan, ga beda dengan Avengers pertama. Harus diakui memang kecanggihan teknologi yang diciptakan dua ilmuwan 'sinting' Tony Stark dan Dr. Bruce Banner memang keren. Film ini mengedepankan science fiction-nya juga, selain action, yang dapat membuat penonton terkesima dengan otak brilian si sutradara, Joss Whedon.

Selain teknologi, salah satu adegan yang cukup besar dalam film ini adalah terangkatnya/terbangnya sebuah kota di Sokovia sebagai strategi untuk membumihanguskan manusia. Di tengah cerita, dua musuh yang direkrut Ultron yaitu si kembar Pietro dan Wanda, yang membenci Stark pada awalnya, bergabung dengan regu Avengers untuk memusnahkan Ultron. Kejadian kayak begini bukan alur baru di film-film action. Sedikit basi, karena tim Avengers jadi terus bertambah. Entah kayak apa di sequel ke-3 dan ke-4 nanti, tapi yang pasti jagoan-jagoan yang kekuatan dan kemampuannya ga terlalu spesifik seperti Iron Man, Thor dan Hulk, paling-paling hanya menjadi pembasmi robot-robot bikinan seperti punya Ultron.

However, film ini cukup menghibur juga karena ada beberapa adegan dan dialog lucu seperti:
1. Ketika para Avengers ditantang untuk pegang tongkat Thor, which nobody could do it, except (in the end) surprisingly Jarvis was able to do it and everybody was gawking.
2. Ketika Iron Man berusaha habis-habisan untuk membuat Hulk pingsan ketika di-mantra oleh Wanda. Adegan memukul Hulk berkali-kali itu lucu.
3. Ketika Hawkeye dibilang: "cepat, Pak Tua", oleh Pietro the superspeed human.
4. Ketika peluru satuan pengamanan nyasar ke lengan Pietro, dll.

However, i would give *** (three stars out of five) for this movie, because it didn't bring too much fun on me:
1. Terlalu full dengan actions, tapi alur tidak terlalu menonjol
2. Adegan-adegannya terlalu mudah ditebak
3. Satu hal yang menarik, saya berpikir, film ini mengesankan para pahlawan pembela kedamaian bumi kok malah pembawa kehancuran bumi, gedung dan kota hancur lebur. Secara logika wajar apabila pemerintah mau menyerang balik Avengers sebagai perusak kota dan merugikan negara. Tapi rupanya ada Starks Enterprise punya satu divisi yang mengurus pembenahan kota pasca pertempuran. Nice and make sense.

Personal score: 6/10
.cis.
© Stories from An Affogato Lover
Maira Gall