Monday, November 25, 2019

Ford v Ferrari, Kisah Nyata Dunia Balap Mobil

Ford v Ferrari (indiewire.com)
Weekend kemarin saya nonton Ford v Ferrari. Why? Simpel, yang main Matt Damon, aktor favorit akuh. Murahan? Oyeaaa.. saya tipe orang yang nonton film tanpa nonton trailernya dulu atau cek ratenya. Selama aktornya favorit saya dan kira-kira lihat posternya bakal menarik (cetek bgt ya?!), saya pasti pilih itu duluan.

So, setelah nonton, nyesel ngga? Not a chance! Buat saya yang ngga paham dunia balap mobil, saya dipuaskan dengan histori yang ada di film Ford v Ferrari ini. Meskipun, kalo kamu mau compare review-review film yang lebih kritis lagi tentang film ini, mungkin review saya ngga ada apa-apanya, karena jujur saya ngga menguasai sejarahnya. Namun, setelah selesai nonton, saya coba baca-baca sedikit histori film ini. However, saya terhibur, karena itu saya tergerak buat mereview film ini.

Ford v Ferrari terletak pada dua inti cerita: yang pertama, persahabatan dua orang yaitu pembalap top pada masanya Ken Miles (Christian Bale) dan ex pembalap, Carroll Shelby (Matt Damon) yang kemudian jadi perancang mobil. Kisah persahabatannya kental banget, dan dikemas fun dan menyentuh. Kedua, tentang Ford dengan egonya mencoba untuk mengalahkan eksistensi Ferrari sebagai champion di dunia balap mobil. Kesombongan dan kapitalisme industri mobil Amerika ini cukup menonjol. Lagi-lagi saya jadi lumayan paham: ooh gini tho persaingan di industri mobil. Saya juga jadi sedikit paham karakter produsen mobil Eropa dan Amerika, meski ngga serta-merta bisa dijadikan patokan ya.

Kisah persahabatan yang maskulin banget, meski asik, nggak jarang saling tarik urat sampe tarik otot (rappler.com).
Film ini durasinya cukup lama, itu juga salah satu alasan saya dalam memilih film yang mau saya tonton. Karena seringkali di dalam durasi yang lama itu, tampak kepiawaian si sutradara dan scriptwriternya dalam meracik adegan dan dialog yang enak banget dinikmati. Dan di film ini, dialog-dialognya ngga ngebosenin, jokesnya ada, sarkasnya dapet, asik!

Latar belakang film ini yaitu Balapan 24 jam Le Mans tahun 1966. Sebetulnya background filmnya sedikit kurang tua, tahun 60an rasa 90an, yang terlihat 60an hanya mobil-mobilnya aja. Tapi buat saya ga jadi masalah.

Nah, buat kamu yang mau menikmati sejarah dua orang yang punya andil besar dalam kesuksesan Ford merebut posisi Ferrari di arena balap, yaitu si pembalap Ken Miles, dan si perancang andalan Ford GT40, Carroll Shelby, film ini bisa jadi hiburan tepat saat pulang kantor atau weekend. Selamat menonton!

My personal score would be 8/10 for this movie.

Baca review lainnya:
Black Panther
John Wick II

Monday, November 4, 2019

Hello, again!



Hellloooooo...
Rindu sangat dengan blog sendiri. Baru ini buka blog lagi setelah postingan terakhir 1 tahun 9 bulan yang lalu, wew! Cek-cek tulisan, banyak banget yang nyangkut di draft dan belum sempat ditulis. Alasan klise: ngga ada waktu, ngga sempet, sibuk! Blogger macam apa? Blogger-bloggeran, aka blogger kurang niat haha.

Oh well, here I am again. Berusaha rajinin lagi, menuangkan ide-ide di kepala yang udah di-mapping di otak tapi ngga juga tertuang dalam tulisan. Dari ide tulisan parenting, sharing perjalanan nyari sekolah SD untuk anak, ragam cerita profesi freelancer, tips-tips dan banyak lagi, kepending di hati dan otak, ngga terwujud dalam tulisan. Mudah-mudahan niat hari ini bisa langgeng dan ga tinggal niat semata yaa.

Di tulisan kali ini, saya mau say-hello lagi, dulu, menyapa pembaca blog saya (yakin punya pembaca? hahahahaha!). Beberapa alasan lama ngga menulis salah satunya karena akhir tahun 2017 lalu saya hamil anak kedua, lalu Juni 2018 saya melahirkan dan disibukkan mengurus bayi lagi, belum lagi bulan Juli-nya anak pertama saya mulai masuk sekolah TK. Jadi saya banyak menyesuaikan diri dengan ritme baru. Meskipun saya bekerja sebagai professional freelancer, yang konon ngga terikat aturan dan peraturan perusahaan, tapi tim kami menerapkan cuti 3 bulan seperti layaknya pegawai kantoran. Karena buat kami cuti melahirkan itu sakral, lagi heboh-hebohnya dan semangat-semangatnya menyusui, sekaligus dijadikan waktu untuk beradaptasi dengan situasi baru.

Setelah cuti melahirkan saya selesai, saya kembali meeting-meeting, bekerja seperti biasa, kemudian di tahun 2019 Tuhan mempercayakan kami dengan project yang cukup banyak sehingga waktu yang dipunya betul-betul hanya untuk pekerjaan, mengurus anak-anak dan rumah tangga, sesekali me-time. Liburan pun belum sempat! Ngeblog bisa dibilang prioritas terakhir, atau bahkan ga masuk prioritas, hiksss! Bahkan saya sama sekali ngga sempat mengabadikan perjalanan hamil dengan rencana persalinan VBAC (namun gagal) di blog ini. Mudah-mudahan lain waktu saya digerakkan untuk tetap menulis topik itu meskipun udah late post, setidaknya buat penyemangat ibu-ibu di luar sana yang punya pengalaman atau rencana serupa.

Dari sejak lahir anak kedua saya juga mengalami beberapa kali ganti ART, sampai akhirnya September 2018 lalu Tuhan kasih ART yang cukup baik dan awet, hingga dia memutuskan untuk berhenti di bulan Agustus 2019. Sebelumnya dari bulan Maret 2019, Si Mbak itu pun sempat pulang kampung dan kembali beberapa kali sampai betul-betul berhenti, dan itu membuat jadwal dan rutinitas saya cukup berantakan. Jadi-lah saya hanya mampu mengerjakan kewajiban-kewajiban dan rutinitas yang paling prioritas setiap harinya. Ngeblog? Boro-boro.

Kemudian, bulan September hingga awal November ini saya dan tim cukup disibukkan dengan event-event klien kami, yang baruuu banget selesai beberapa hari lalu. Baru inilah saya agak bisa nafas, dan itulah akhirnya saya bisa nulis hari ini. Meskipun, pas masih ribet-ribetnya event kemarin, kembali saya mengalami drama ART (drama yang kedua pasca si Mbak yang terakhir itu resign), yang tiba-tiba hari Jumat 1 November lalu minta pulang saat itu juga. Ibu-ibu yang pernah merasakan hal ini pasti tau rasanya kayak apa @#$%*^@(!%^$.

Berhubung kerjaan saat ini sudah agak longgar dibanding hari-hari sebelumnya, dan saya lagi lelah dengan gonta ganti ART yg belum juga oke (menurut saya), akhirnya saat ini saya mutusin ngga nyari ART dulu. Kayaknya sih kepegang, mudah-mudahan. Paling ribetnya kalo saya mau nyalon aja hahahaha... karena belum tega si adek yang 1 tahun 5 bulan ini kalo harus terpapar suara bising hair dryer dan bau cat rambutnya salon, belum lagi ribet kalo minta n**en wkwkwk.

Di tulisan ini tanpa sadar saya curhat doang... anggaplah sebagai pengantar ke tulisan-tulisan berikutnya lah yaaaa. Well, bye for now, sampai ketemu di tulisan saya berikutnya. ☺

Thursday, February 22, 2018

Review Film: Black Panther, Selamat Datang Superhero Terbaru Marvel di Layar Lebar

Black Panther movie (citymetric.com)
Helloooo 2018!

Banyak film yang udah ditonton dan dilewatkan untuk direview sejak review film terakhir John Wick, satu tahun lalu!

Sore ini saya movie date sama suami, dari pacaran kita paling seneng nonton film. Sampe sekarang, ngedate paling gampang, ngga makan waktu lama tapi enjoyable dan cukup buat refreshing sejenak buat saya dan suami itu ya nonton film di bioskop. Sebagai sesama pecinta film Hollywood action, thriller, dan sejenisnya, pilihan film saat nonton di bioskop memang selalu jatuh pada genre ini. Tapi bukannya anti genre film lainnya lho yaa. Suka juga kok dengan film genre lain, bahkan film Indonesia :)

Bulan lalu, setelah lihat trailer Black Panther, langsung film ini dimasukkan dalam next movie shopping list. Pas udah tayang, menggebu-gebu banget pengen cepet-cepet nonton karena di trailer rasanya film itu keren banget karena beberapa alasan:
1. Latarnya Afrika, which is jarang. Yang sudah-sudah, Marvel Superheroes kebanyakan berasal dari Amerika, sangat western.
2. Menambah deret karakter Marvel berbasis binatang. Dan Black Panther ini terkesan kuat, kokoh, keren.
3. Di trailer, saya merasa "jagoan" yang dimunculkan tuh ngga to the point, jadi bikin penasaran.

Ekspektasi saya cukup tinggi sama film ini. Saya merasa bakal puas banget. Untuk poin 1 dan 2, dapet banget. Budaya dan ritual Afrikanya melekat banget dalam film ini. Plus logat Afrikanya itu seru, ngomong bahasa Inggris dengan aksen Afrika, so cool. Banyak juga percakapan dalam bahasa "Afrika" meski ngga tau itu betulan bahasa Afrika atau ngga (maklum ngga pernah belajar bahasa Afrika).

Tapi untuk poin 3, ternyata unsur kejutannya ngga seperti yang diharapkan. Semua langsung dijembreng di awal. Meskipun ada bedanya dengan superhero berkarakter binatang lainnya seperti Spiderman atau Antman yang proses penjelmaan jadi superhero biasanya karena kegigit hewan tersebut atau dari penelitian. Kalo ini ngga neko-neko, bila seseorang dinobatkan menjadi Raja Wakanda ya otomatis jadi Black Panther.

Intisari cerita ini sebetulnya bagus, dimana Wakanda, negeri yang super kaya dengan vibranium ini menyembunyikan kekayaan negerinya karena takut disalahgunakan oleh negara lain, karena prinsip negeri ini sesimpel menjaga kedamaian negeri dan ngga mau terlibat dengan konflik-konflik di luar negeri. Sayang, adegan actionnya menurut saya kurang epik. Adegan action yang paling saya suka yaitu waktu di Busan, Korea.
Sumber: nytimes.com
Film ini mengambil tempat di wilayah asal Black Panther, konfliknya masih di lingkup negeri Wakanda, belum keluar dari situ. Seperti Thor di awal yang latarnya full di Asgar (asli garut, eh) Asgard dan belum keluar dari Asgard. Tebakan saya, Black Panther nantinya akan jadi seperti Thor juga, keluar dari Wakanda, bergabung dengan negara lainnya to save the world. Ini hanya permulaan aja, jadi urusannya masih ngeberesin konflik internal.

Intinya adalah, kesan yang saya dapet nonton film ini kayak waktu Nonton Wonder Woman. Gal Gadot actingnya keren banget, tapi aksi laganya kurang epik. Karakter T'Challa itu kuat banget, dan Chadwick Boseman memerankan karakter T'Challa dan Black Panther tanpa cacat. Tapi aksi-aksinya belum begitu mengesankan buat saya. Namun secara keseluruhan, film ini tetap menghibur. Memang ngga bisa expect banyak karena film ini baru awal. Di sekuel berikutnya pasti lebih banyak kejutan yang lebih keren.

Maaf lho, reviewnya susah banget buat ngindarin spoiler :D

My personal score for this movie: 6/10.

Monday, October 9, 2017

Cetaphil: Ahlinya Kulit Sensitif


Halooo ladies!
Udah lama ngga ngeblog nih :( Itulah PR seorang blogger, yaitu konsisten ngeblog! Dan saya belum lulus soal yang satu ini.. huff. Apalagi kalo kerjaan lagi menggunung.

Anyway, saya mau share kegiatan yang saya ikuti seminggu lalu, yaitu Blogger Gathering Cetaphil X Guardian yang mengusung tema "An Intimate Soiree with Andien". Seru? Udah pasti!

Pertama-tama blogger diajak photo competition dulu di booth Cetaphil, sambil tour guna mengenal produk Cetaphil, yang ditujukan bagi kulit sensitif ini. Jujur, pertama lihat boothnya, ada tulisan "Sensitive Skin Care", membuat aku berpikir keras, jangan-jangan ini produk yang saya butuhkan. Terus aku mulai meneliti produknya, yaitu nonkomedogenik, soap-free, perfume free, direkomendasikan oleh dermatologist pula. Naksir dengan produk ini langsung, mana lagi diskon kan (penting tuh!).

Tapi sebelum memutuskan untuk boyong pulang produk, aku coba lihat dulu paparan dari Cetaphil tentang produk ini biar lebih paham. Aku sering lihat sebetulnya di apotik-apotik, tapi aku ngga banyak tahu tentang produk ini. Ternyata Cetaphil sudah eksis di dunia kesehatan kulit sensitif selama lebih dari 40 tahun!

Kulit sensitif di sini bisa berminyak, atau kering atau bahkan berjerawat. Andien, sebagai brand ambassador Cetaphil, ikut berbagi pengalaman bagaimana dulu dia punya masalah kulit wajah. Kulitnya sangat kering tapi berjerawat juga. "Biasanya kalo punya kulit berjerawat fokusnya mengobati jerawat sehingga memilih produk khusus untuk kulit berjerawat dan itu malah membuat muka kusam," kenang Andien. Produk khusus jerawat biasanya ga melembapkan dan cenderung membuat kulit makin kering. Akhirnya Andine dikenalkan produk Cetaphil ini oleh seorang sahabatnya laki-laki. Buat Andien, yang penting itu menyehatkan kulitnya dulu, kalo produk perawatan kulit yang dipilih sudah tepat, jerawat dengan sendirinya ikut terminimalisir.
Andien berbagi pengalaman menggunkan Cetaphil.

Somehow, saya setuju sama Andien. Saya punya kulit berjerawat tapi ngga berminyak banget juga. Saya ngga begitu paham jenis kulit saya. Di bagian-bagian tertentu ada yang agak kering atau normal. Di bagian lagin cukup berminyak. Sepertinya jenis kulit kombinasi. Penting banget buat kita ngerti jenis kulit kita apa, sehingga meminimalkan masalah pada kulit wajah.

Kesalahan saya dalam perawatan kulit wajah selama ini antara lain:
1. Pilih produk yang cenderung mengandung sabun
2. Tergiur dengan produk acne clearing
3. Masih pakai bedak padat
4. Tiba-tiba suka pakai krim malam vitamin E, yang katanya cocok untuk semua jenis kulit. Memang sih enak rasanya lembap, tapi sepertinya ini membuat kulit saya kadang makin berminyak.

Produk Cetaphil, khususnya Cetaphil Gentle Cleanser, meskipun untuk kulit sensitif, bisa digunakan buat jenis kulit manapun. Karena formulanya soap-free, bikin kulit ngga kering sehabis dibersihkan. Kalau biasanya menggunakan sabun muka itu kesat, tapi lain dengan Cetaphil. Saat diaplikasikan ke wajah dan dibersihkan dengan air, Cetaphil tidak meninggalkan lengket di kulit, tapi membersi rasa lembap.

Cetaphil Gentle Cleanser ini perfume free juga. Ini kelebihannya:
1. Cocok untuk semua jenis kulit
2. Ideal untuk wajah dan seluruh tubuh
3. Tidak menyebabkan iritasi kulit
4. pH seimbang dan bebas sabun
5. Dapat digunakan dengan atau tanpa air

Tanpa air? Serius? Ternyata iya, saya coba usapkan di tangan pada saat acara berlangsung, lalu usap pakai kapas. Ngga ada lengket sama sekali. Seperti pakai milk cleanser aja. Lalu di rumah saya coba begitu juga, dan yes, enak sih. Tapi sebaiknya pakai air saja kalo ada. Tanpa air gunakan saat urgent lagi di jalan atau lagi kepepet. Dan usapkan toner setelahnya. Intinya, jangan dibiarkan begitu aja ya, habis pakai Cetaphil, harus tetap dibasuh dengan air atau usap sisa-sisanya dengan kapas.

Saya baru beberapa minggu pakai Cetaphil Gentle Cleanser. Saya pakai untuk membersihkan wajah aja. Kalo untuk mandi juga nanti cepat habis, sayang hahahaha. Kesan pertama saya enak pakai produk ini.. Untuk orang yang terbiasa menggunakan sabun pembersih, mungkin awal-awal ngga terbiasa ya pakai Cetaphil. Sabun pembersih itu biasanya mengandung banyak busa dan meninggalkan rasa kesat yang membuat kita merasa "bersih tuntas". Padahal sabun pembersih yang meninggalkan rasa kesat kemungkinan membuat kulit kering dan perlu dipertanyakan kandungan kelembapannya. Sementara, Cetaphil Gentle Wash ngga menghasilkan busa sama sekali saat diaplikasikan. Tak kesat dan tak terasa kering di kulit, kelembapan kulit pun terjaga.
Kiri: sebelum Cetaphil diaplikasikan. Teksturnya seperti gel, agak putih bening.
Kanan: setelah diaplikasikan ke wajah, bercampur dengan sebum dan kotoran, warna jadi agak putih susu.

Saat ini jerawat-jerawat saya lagi kalem, mungkin ada pengaruh hormon plus pakai Cetaphil Gentle Wash juga. Yang jelas saya ga mengalami efek negatif apapun menggunakan Cetaphil.

Kebetulan saat acara kemarin, saya memenangkan kompetisi foto di Instagram, dan berhadiah beauty box keren dari Cetaphil. Jadi ngga jadi beli deh hehe. Aku coba dulu hadiah Cetaphil Gentle Wash ini. Kalo cocok sampe habis, bakalan rajin hunting diskon ni hahahaha.
Hadiah beauty box dari Cetaphil.

Buat yang mau coba, silahkan yaa, aku rekomen banget! Jangan lupa share pengalaman kamu di komen. Akhirnya, selamat mencoba dan semoga cocok! ;)


Saturday, April 29, 2017

Pengalaman Seru Diagnosa Rambut dengan Kerastase di Irwan Team Hairdesign

Pengalaman Seru Diagnosa Rambut dengan Kerastase

Halo semua. Back again after a while. Kali ini saya mau berbagi pengalaman perawatan rambut beberapa hari lalu.

Februari lalu saya mendaftar untuk mendapatkan satu buah voucher gratis diagnosa dan perawatan rambut di situs myverypersonalcare.com. Saya pilih Irwan Team Hairdesign di Bintaro Xchange sebagai tempat perawatan. Berhubung jadwal cukup padat belakangan ini, dan saya belum ada waktu untuk datang ke salon, tadinya saya udah merelakan untuk ngga pakai vouchernya. Tetapi saya pikir-pikir lagi untuk mencoba saja, berhubung ada waktu. Jadi Sabtu 29 April saya langsung datang ke Irwan Team, karena saat weekend tidak bisa booking via telepon dan diminta langsung datang mengantri. Akhirnya voucher ini saya pakai juga, which is very last minute, H-1 sebelum voucher expired hahaha.

Begitu sampai di salon, resepsionis menyambut ramah. Saya langsung utarakan maksud saya menggunakan voucher. Tak perlu menunggu lama, 15 menit kemudian, saya dipersilahkan untuk melakukan perawatan rambut. Berikut ini tahapannya.

1. Diagnosa rambut 

Ini langkah pertama perawatan, untuk menentukan produk perawatan rambut yang cocok untuk rambut saya. Diagnosa rambut dilakukan menggunakan alat seperti kamera kecil dengan lensa pembesar (mungkin seperti mikrospkop ya) yang bisa melihat kondisi kulit kepala dengan jelas.

Setelah diagnosa, fakta kondisi kadar minyak di rambut saya normal, tidak berlebih. Nice to know, hahaha. Namun, ternyata di rambut saya ada sedikiiiit ketombe, hiks. Perasaan rambut saya bersih-bersih aja deh, karena tidak gatal dan ga pernah ada tampak ketombe di kepala, apalagi sampai jatuh ke bahu (jangan sampeee!). Saking alatnya canggih, jadi calon ketombe yang tak kasat di lapisan dalam kulit kepala pun terlihat dengan alat diagnosa. So, jangan keburu girang ya kalau rambutmu terasa bersih-bersih aja, karena bisa saja ada ketombe hahaha (nyari temen).

Lalu saya tanya mengapa rambut saya yang bersih ini bisa ada ketombenya. Ternyata itu karena saya keramas setiap hari, jd ketombe ngga sempat numpuk di kepala saya. Ah, syukurlah!

Namun meskipun demikian, sebenarnya keramas setiap hari itu tidak dianjurkan. Yang benar adalah setiap dua hari sekali. Kalo setiap hari, lapisan rambut bisa rusak dan rambut jadi kering. Kalau pun terpaksa keramas setiap hari, harus menggunakan kondisioner supaya rambut tidak kering.

Setelah diagnosa selesai, diputuskanlah oleh staf salon untuk menggunakan produk perawatan anti ketombe dalam perawatan rambut saya.

2. Cuci rambut

Tahap kedua, cuci rambut. Dalam tahap ini pencucian rambut dilakukan dua kali, lalu diberi kondisioner. Saya mau jujur, pijatan staf yang mencuci rambut saya enaaaak banget! Lembut, dan ga terburu-buru, tapi terasa cukup kencang (saya penggemar pijatan kencang hahaha). Pijatannya terasa menenangkan dan melenturkan otot-otot di kepala dan leher. Irama pijatan sangat teratur. Haduh ini sih dimanjain banget. Next time jadi pengen cobain perawatan creambath di Irwan Team Hairdesign.

3. Pemberian Tonic Kerastase 
Tonic Kerastase Specifique Cure Anti-Pelliculaire
Selesai cuci rambut, lanjut ke pemberian tonic Kerastase Specifique Cure Anti-Pelliculaire. Serum ini spesifik untuk perawatan kulit kepala yang mengatasi masalah ketombe dan menyeimbangkan minyak berlebih. Sensasi dingin membuat kulit kepala terasa segar. Stafnya dengan telaten meneteskan tonic secara merata di seluruh kulit kepala saya.

4. Blow
Setelah diblow oleh tim Irwan
Ini dia bagian paling ditunggu. Nyalon tanpa blow itu bagaikan ambulans tanpa uwiw uwiw (eh?!). Staf salon ngeblownya enak, ngga sakit ditarik-tarik rambutnya, seperti beberapa salon yang pernah saya kunjungi. Hasilnya luar biasa, rambut ombak badai saya mendadak lurus rapi seketika, seperti baju habis diseterika. Siapa yang tahan untuk ga selfie?

Mandatory selfie setelah nyalon
Sayang sekali saya perginya last minute, karena saya jadi ngga bisa rekomendasi beberapa teman saya yang akhirnya ngga sempat mencoba perawatan rambut yang sangat bagus ini.

Terima kasih Kerastase dan Irwan Team Hairdesign, sudah diberi kesempatan untuk merasakan perawatan rambut yang super excellent. Tunggu kedatangan saya di lain waktu yaa (hhh, kayak saya artis aja!). Keep up the good work!

Tuesday, April 11, 2017

Stimulasi Anak Berbekal Puzzle dan Stop Watch

Menyusun puzzle
Sudah lama ga posting seputar kegiatan anak. Untuk menebus keabsenan saya bikin-bikin kegiatan bersama anak di minggu-minggu lalu berhubung kerjaan lagi cukup padat, hari ini saya upayakan untuk memberi waktu lebih sebelum saya berkutat dengan kerjaan lagi.

Pagi-pagi saya ajak anak nyanyi-nyanyi, kebetulan beberapa bulan yang akan datang akan ada konser dari tempat les musiknya, jadi sekalian saya stimulasi untuk menghafal lagu Twinkle-twinkle dan Happy Family. Setelah itu, nyanyi lagu K-A-S-I-H, yang saat ini lagi jadi lagu favoritnya, berhubung ini lagu ada gayanya sendiri, jd makin seru. Masih di seputar "music smart", saya juga mengulang lagu-lagu di tempat les musik, supaya makin terasah.

Selesai nyanyi-nyanyi, seperti biasa, ia bermain-main. Kali ini bermain puzzle. Beberapa waktu lalu saya berikan puzzle bergambar planet-planet. Puzzlenya lumayan besar dan ga terlalu banyak. Saya pikir yang sesuai usianya dan ga terlalu sulit. Dulu banget juga sebenarnya udah pernah ngenalin puzzle, tapi dia ga begitu tertarik. Mungkin dulu agak sulit buat dia, kebetulan puzzle-nya kecil2 dan banyak. Saat saya tahu sekarang dia udah bisa menyusun puzzle sendiri, saya berikan tantangan.

Puzzle bergambar planet
Pertama, saya suruh susun sendiri dengan benar, dan yes, lulus tanpa hambatan. Lalu, saya nyalakan stop watch, mau melihat berapa lama ia bisa menyelesaikan puzzle. Di awal, ia membutuhkan waktu 1 menit 47 detik (hampir 2 menit) untuk menyelesaikannya. Fokusnya bukannya cepat-cepat selesaikan puzzle malah bolak-balik ngelihatin hp saya, penasaran sama stop watch yang saya setel, hahahahaha.
Menyusun puzzle
Penuh semangat menyusun puzzle

Puzzle selesai
Kemudian saya nyalakan stop watch untuk yang kedua kali, ada peningkatan, dia dapat menyelesaikan puzzle dalam waktu 1 menit 17 detik. Setelah itu, saya menyalakan stop watch untuk yang ketiga kali. Sambil ia menyusun puzzle, saya berikan semangat: ayo, ayo, kamu bisa, ayo ayo. Ternyata ia suka, dan kalo saya berhenti, anak saya bilang, "Ayo Ma, sambil ayo ayoin Cio", dan ia pun mampu menyelesaikan puzzle dengan waktu yang lebih singkat yaitu 1 menit 6 detik. 
Stop watch, bekal stimulasi kali ini selain puzzle.
Rupanya ia suka diberi semangat, dan dalam penyusunan puzzle yang ketiga, ia mengerti bahwa ia sedang diburu dengan waktu untuk menyelesaikan puzzle dengan cepat. Berikutnya, ia kembali menyusun puzzle, tapi saya ga setel stop watch. Ia menyusun puzzle sambil bernyanti Happy Family. Sepertinya menyusun puzzle sambil bernyanyi membuat ia lebih fokus dan tenang. Mungkin sama seperti kita nyanyi sambil masak ya, jadi ga berasa tau-tau udah selesai, hahahaha.

Setel-setel stop watch ini murni keisengan saya, tapi senang juga saat tahu itu punya arti yang cukup unik dalam stimulasi. Beberapa hal yang saya dapat dari stimulasi puzzle dan stop watch kali ini yaitu:
1. Mengajarkan anak berpikir dan melakukan sesuatu dengan tepat dan cepat. Mirip seperti ujian di sekolah, harus selesai sekian soal dalam kurun waktu tertentu.
2. Anak-anak suka diberi semangat, mereka akan terpacu untuk lebih baik saat diberi dorongan positif.
3. Praktik membuktikan, latihan rutin membuat segala sesuatu lebih baik. Terbukti dengan 3x percobaan dengan stop watch, hasilnya semakin lama semakin singkat waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan puzzle. Tapi tentunya bukan dengan paksaan yaa..

Hal positif lainnya yang saya petik dari iseng-iseng hari ini, bahwa stimulasi atau mengajarkan anak-anak sesuatu ga harus selalu serius-serius banget, ga perlu cara yang rumit, ga selalu harus menggunakan alat-alat canggih. Bisa saja hal yang sederhana tapi menarik buatnya dan ia senang melakukannya, malah hasilnya justru lebih baik dari yang dibayangkan. Saat mencoba hal baru, hindari menetapkan target terlalu tinggi, supaya kita ga menjadi orang tua yang terbiasa dengan rentetan ekspektasi akan si anak. Dengan demikian, anak juga ga terbebani dalam menjalani stimulasi-stimulasi untuk kebaikan tumbuh kembangnya. 

By the way, hasil stimulasi juga bisa beda-beda di setiap anak,ya. Jika anak Moms ga suka puzzle, bisa diganti dengan alat bantu atau kegiatan lain yang disuka.

Moms punya pengalaman lain? Share, yuk!

#creativemomforcreativekids

Thursday, March 23, 2017

Tentang Working Mom, Freelance Working Mom dan Stay-at-home Mom

Setiap ibu berharga (Barbara H - clipart-library.com)
Rasanya miris jika di era yang sudah semakin maju ini, antara mom yang satu dengan mom yang lain masih acap terdengar saling mengomentari profesi masing-masing. Mom yang bekerja bilang, "Saya kan ngantor juga, juggling antara urus rumah, urus anak dan pekerjaan. Ga sempat santai-santai kayak Mom yang ngga bekerja dan hanya di rumah aja." Sementara di lain tempat, ibu yang sehari-harinya di rumah berkomentar, "Duh, apa anaknya keurus ya kalo pergi pagi pulang malam gitu? Lama-lama jadi anak pembantu." Dan seterusnya, seperti tak ada habisnya.

Padahal, apapun profesi seorang ibu, apakah working mom, atau freelance working mom, atau bahkan stay-at-home mom, semua ada kebaikan dan tantangannya sendiri. Apapun profesi seorang ibu, kita semua adalah full time mother. Banyak orang bilang full time mom itu adalah ibu yang tidak bekerja di luar rumah. Salah! Buat saya pribadi, ibu bekerja pun disebut full time mom. Mengapa? Karena "ibu" adalah identitas yang melekat sepanjang masa ketika seorang perempuan memiliki anak. Di rumah maupun di luar rumah, seorang ibu tetaplah seorang ibu. Mereka tetap memikirkan anak-anaknya saat bekerja. Seorang ibu yang bekerja di luar rumah tidak lantas menjadi single hanya karena ia memutuskan untuk membagi waktunya untuk menjadi seorang pekerja kantoran.

Mom perlu tahu masing-masing seluk beluk profesi setiap ibu, supaya bisa saling menghargai. Ini lho yang sebenarnya dihadapai oleh working mom, freelance working mom dan stay-at-home mom.

Working Mom
Working mom (Photoduet - freepik.com)
Pendapat orang: enak ya kerja di luar, bisa bertemu orang banyak, ga sumpek di rumah terus.
Fakta: kerja di luar selain bertemu orang banyak, juga bertemu macet dan drama kantor setiap hari. Kerja di kantor juga ada potensi stres karena pekerjaan.

Tidak dipungkiri, ada sisi yang menyenangkan tentang bekerja di kantor.  Rasanya seperti punya beberapa bagian peran. Peran di rumah, juga di tempat kerja. Setelah seharian penat di kantor, pulang ke rumah bertemu anak sungguh membahagiakan. Melihat senyum dan tawa si kecil, bermain-main bersamanya menjadi terapi tersendiri. Tapi tak hanya itu. Sepulang dari kantor, masih banyak PR yang perlu diselesaikan di rumah. Menyiapkan makan malam atau masakan untuk besok pagi, menemani anak mengerjakan PR (bagi mom yang anaknya sudah sekolah), atau memompa ASI bagi ibu yang masih menyusui. Capek? Pastinya.

Belum lagi perjalanan rumah-kantor-rumah, yang hampir tidak mungkin tanpa macet (kecuali beberapa ibu yang beruntung berkantor dekat dengan rumah). Tapi apakah semuanya untuk dikeluhkan atau malah dibangga-banggakan? Seharusnya tidak. Semua harus dijalani dengan legowo supaya hasilnya maksimal. Bagi working mom, anak tetap prioritas utama, lho.

Freelance Working Mom
Freelance working mom (freepik.cpm)
Pendapat orang: enak ya kerja freelance di rumah, santai.
Fakta: bekerja di rumah dengan balita di samping kita, tak semudah yang dibayangkan. Seringkali saat sedang mengejar deadline, dibumbui dengan rengek tangis anak meminta sesuatu, sehingga sulit untuk berkosentrasi.

Banyak ibu yang tetap ingin bekerja setelah memiliki anak, tapi juga dilema untuk meninggalkan anak bekerja. Akhirnya bekerja freelance menjadi pilihan yang ideal. Benarkah ideal? Dalam hal tetap bisa bekerja tanpa harus banyak meninggalkan anak, ya, benar ideal. Bekerja dengan status freelance memungkinkan ibu membagi waktu dengan lebih maksimal antara pekerjaan dan mengasuh anak, sehingga anak mendapat lebih banyak perhatian dan stimulasi untuk tumbuh kembangnya.

Di sisi lain, adalah tantangan tersendiri saat mom harus mengejar deadline di rumah, namun anak merengek mengajak bermain atau justru rewel dan menuntut perhatian Mom. Mana yang akan Mom dahulukan jika ada di posisi seperti itu?

Jika anak mom sudah sekolah, mungkin bekerja freelance bisa jadi lebih ideal, karena Mom bisa fokus bekerja saat anak sekolah. Anak mom pun sudah memiliki kesibukan sendiri. Dan anak usia sekolah, sudah lebih mudah diberi pengertian bahwa ibunya bekerja di rumah. Namun jika anak Mom masih usia balita, ada tantangan yang harus Mom taklukkan saat memilih profesi sebagai freelance worker.

Stay-at-home Mom
Stay-at-home mom (Peoplecreations - freepik.com)
Pendapat orang: enak ya jadi stay-at-home mom, bisa tidur siang di rumah.
Fakta: saat anak tidur siang, ingin rasanya beristirahat sejenak ikutan tidur siang. Tapi nyatanya, masih ada pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, dan mumpung anak tidur, mending diselesaikan aja deh. Dan... waktu sudah sore, sudah lewat jam tidur siang, dan tidur siang tidak pernah terjadi.

Pernah dengar komentar bahwa ibu rumah tangga itu tidak produktif karena tidak menghasilkan Rupiah seperti ibu bekerja? Padahal pekerjaan ibu rumah tangga rasanya seperti tidak ada habisnya. Ibu rumah tangga tidak punya jam kerja yang pasti. Meskipun di rumah dan tidak bermacet-macet di jalan, namun dari pagi hingga larut, ada saja yang diurus mom. Capek? Tentunya. Tetapi ada kepuasan tersendiri menyaksikan anak bertumbuh dan berkembang setiap saat dan memastikan mereka tumbuh sehat dan aman bersama kita.

Saya tergerak untuk menulis artikel ini agar semakin banyak para ibu yang tidak lagi mempersoalkan apa profesi ibu lainnya. Seharusnya setiap ibu bisa menjadi support system bagi ibu lainnya, karena pasti setiap ibu bisa merasakan tantangan dalam menyandang gelar sebagai seorang ibu.

Sudah bukan masanya lagi bagi ibu bekerja meremehkan profesi ibu rumah tangga. Begitu pun ibu rumah tangga, tak seharusnya berkata hal-hal buruk tentang ibu bekerja. Semua itu pilihan. Jangan pernah bilang profesi ibu lainnya itu lebih enak dari kita. Jika ibu rumah tangga bilang ibu pekerja kantoran itu enak, ya silahkan saja bekerja kantoran. Sebaliknya, jika ibu bekerja menganggap jadi stay-at-home mom itu lebih menyenangkan, maka jadilah ibu rumah tangga.

Ibu yang bekerja di luar rumah, bekerja freelance atau ibu rumah tangga, tetap menghadapi saat-saat anak rewel, susah makan, atau kendala lainnya.

Setiap ibu sama-sama capek, apapun profesinya.
Setiap ibu sama-sama butuh piknik dan spa.
Setiap ibu sama-sama mengusahakan yang terbaik buat sang buah hati.
Setiap ibu pasti meletakkan keluarga di atas segalanya.
Setiap ibu sama-sama berharga.

Jadi, tidak ada yang paling mudah di antara ketiganya.

So, moms, apakah masih perlu mempersoalkan profesi moms lainnya? Saya sih big NO. Kalau moms, gimana? Kalau sepakat sama saya, tulis di kolom komentar ya :)
© Stories from An Affogato Lover
Maira Gall