Wednesday, April 15, 2015

Belajar dari Tukang Pijat

Photo credit: flickr.com Tara Angkor Hotel
Salah satu hal yang menguntungkan dari lokasi gedung kantor tempat saya bekerja yaitu ada tempat pijat refleksi di sebelahnya. Lokasinya persis di sebelah kanan gedung kantor saya, dan berada di dalam gedung perkantoran yang cukup terkenal di wilayah Gatot Subroto. Ketika saya merasa kurang sehat atau badan terasa begitu lelah, kadang saya menyempatkan diri ke tempat pijat refleksi tersebut di jam istirahat dan memanjakan diri dengan sentuhan piawai terapis refleksi.

Saya memiliki terapis langganan. Pijatannya pas, tidak menyakitkan, namun bertenaga. Selesai pijat saya selalu merasa segar kembali, siap tempur di meja kerja. Bagian yang menyenangkan dari terapis ini adalah dia tidak segan-segan memberikan layanan pijat melebihi dari apa yang seharusnya didapat pelanggan. Area pijat utamanya adalah kaki dan punggung. Namun terapis ini selalu menawarkan area lain untuk dipijat, misal muka (seperti totok wajah) dan kepala. Apabila sekali ditawarkan pelanggan bersedia untuk diberikan layanan tambahan, di kemudian hari dia tidak akan menawarkan kembali, namun langsung memberikan layanan tambahan tersebut kepada pelanggan. Karena terlihat tulus dan serius dalam melayani pelanggan, saya tidak segan-segan memberikan tip lebih kepada terapis ini.

Beda hal dengan pegawai kantor. Sering kali saya mendengar celetukan atau ocehan pegawai kantor yang bilang: "Jangan bilang bisa, nanti kalau sudah bisa, jadi keterusan." Beberapa pegawai kantor enggan melakukan pekerjaan yang melampaui kemampuannya. "Kalau lo mau ngerjain ini, besok-besok pasti disuruh lagi karena dianggap bisa. Tapi gaji ga nambah-nambah." Bagaimana gaji mau nambah, skill pegawainya pun ngga nambah-nambah. Tanpa disadari ini juga menjadi hal yang merugikan karyawan sendiri, jadinya stuck, ga maju-maju. 

Tujuan saya menulis artikel ini bukan untuk menyindir para pegawai kantor ataupun bertindak sebagai wakil perusahaan (gimana mau wakilin, punya aja engga?! LOL), tapi mau mengajak para pegawai kantoran -yang masih berniat kerja di kantor untuk waktu yang lama, serta passion-nya emang ngantoran- untuk ga pelit sama diri sendiri, mau belajar, mau mencoba, mau memberi layanan yang lebih dengan cara yang bijak (baca: BIJAK!). Kalau memang sudah memberi yang terbaik pasti ada impactnya di kemudian hari. Bisa saja tidak berbentuk materi langsung, tetapi berupa knowledge, network, nama baik, dan lain sebagainya. 

Bukan tidak mungkin terapis refleksi itu bisa membuka tempat pijat refleksi sendiri nantinya, dengan langganan yang dia punya, layanan yang dia berikan, hubungan yang dia bangun dengan pelanggan. Apabila suatu saat nanti, saya, atau Anda, yang saat ini masih jadi pegawai kantoran, juga bisa buka kantor sendiri, nikmat banget kan?

A big success sometimes begins with a willingness to dream and do big.

.cis.

Wednesday, April 8, 2015

Tips Cermat Berhemat buat Para Ibu Hebat

Photo credit: flickr.com, Heidi Pungartnik, www.thriftytricks.com
Bagi sebagian orang, berhemat bukan hal yang mudah. Bukan hanya karena godaan berbelanja begitu besar khususnya di ibukota tercinta ini, tapi juga biaya kebutuhan hidup dan hal-hal yang menjadi pelengkapnya saat ini relatif tinggi. Hemat bukan berarti harus pelit, bukan berarti tidak bisa menikmati hidup. Hemat memberi nilai tambah buat kehidupan keluarga para Ibu, sebagai manajer keuangan di rumah. Hemat itu bisa jadi asyik lho! Berikut beberapa tips berhemat seru dimana Ibu dan keluarga tetap bisa menikmati indahnya hidup.

1. Weekend nge-mal
Tarraaa.. it's weekend! Bagi sebagian penduduk Jakarta, nge-mall pada saat weekend atau hari libur merupakan salah satu hiburan. Pergi ke mal dianggap hiburan murah karena tidak perlu ada tiket masuk mal. Namun, apabila Ibu tidak jeli, kegiatan nge-mal juga bisa jadi hal yang boros, karena tanpa sadar Ibu mengeluarkan banyak uang untuk membeli makanan, camilan, mainan anak, barang-barang dan sebagainya. Untuk menyiasati berhemat nge-mal pada saat weekend, usahakan berangkat setelah makan siang dan pulang sebelum makan malam. Ketika keluarga makan siang di rumah dan perut dalam keadaan kenyang, di mal Ibu tidak perlu mengeluarkan kocek untuk makan berat lagi. Setelah puas nge-mal, aturlah waktu agar sampai di rumah di saat jam makan malam sehingga biaya makan malam dapat dihemat. Dengan demikian uang makan siang dan malam dapat dialokasi untuk kegiatan lainnya seperti bermain anak atau membeli camilan. Apabila Ibu makan siang dan malam tidak di mal, maka Ibu dapat menghemat uang sekitar Rp200.000-Rp300.000 ribu per minggu, dan sebulan dapat menghemat pengeluaran hingga Rp400.000 hingga Rp600.000 (Asumsi ke mal 2x dalam 1 bulan).

2. Hindari Berkali-kali ke mal dalam satu bulan (hemat bayar parkir)
Mungkin Ibu berkali-kali ke mal dalam satu bulan untuk tujuan yang berbeda. Hari ini belanja bulanan, minggu depan mengajak anak bermain, esoknya lagi makan bersama, dan seterusnya. Ingat, berkali-kali ke mal dalam 1 bulan tidak hanya dapat menggoda Ibu untuk membeli hal yang tidak perlu, namun mengharuskan berkali-kali membayar tiket parkir. Apabila ke mal, upayakan untuk melakukan banyak kegiatan yang diperlukan sekaligus. Catat senantiasa keperluan anda di ponsel agar ketika ke mal, anda sekaligus melakukannya. Apabila anda biasa ke mal 6 kali dalam sebulan, kurangi menjadi 2 kali. Dengan demikian tiket parkir yang dapat anda hemat kurang lebih Rp40.000 hingga Rp60.000.

3. Satu handphone cukup
Sekarang ini banyak orang yang menggunakan lebih dari satu ponsel. Entah karena memiliki banyak keperluan, atau tergoda dengan ponsel termutakhir. Apabila Ibu ingin berhemat, cukup gunakan satu ponsel untuk semua keperluan. Dua ponsel berarti: dua kali mengisi ulang pulsa atau membayar tagihan, dua kali mengisi ulang baterai ponsel (tidak hemat listrik), serta membeli dua sarung ponsel (aksesoris). Dengan menggunakan satu ponsel saja setiap bulan, bisa jadi Ibu menghemat Rp100.000 setiap bulannya.

4. Gunakan listrik dengan bijak, lalu hitung penghematannya
Matikan lampu dan AC apabila tidak sedang digunakan. Cabut kabel dari stop kontak untuk peralatan elektronik yang tidak sedang dipakai (microwave, blender, televisi, audio player, charger ponsel/tablet/laptop). Kemudian hitung penghematannya dalam satu bulan biaya listrik keluarga, apabila Ibu sudah menerapkan hal-hal tersebut. Menghemat biaya listrik Rp20.000 per bulan, lumayan kan?

Apabila Ibu menerapkan tips tersebut, maka dalam satu tahun Ibu dapat menghemat pengeluaran hingga Rp9.000.000! Hebat bukan?! Dan dana ini bisa Ibu alokasi untuk tabungan pendidikan anak. Dengan demikian anda akan menjadi Ibu cermat, hemat dan hebat!
Selamat menikmati hidup yang bernilai tambah :)

.cis.

Thursday, April 3, 2014

Meeting Indonesia’s Future Energy Challenges

Have you ever thought about what your life would be like without access to energy? No light in the morning — nor coffee or toast. You couldn’t drive to work and there would be no way to connect with others around the world. Energy is the key enabler for all of our day-to-day activities, and for the economy.

Access to reliable and affordable energy supplies continues to improve our lives. The question is, how long will we be able to benefit from the energy supply that we need so much today?

Growing demand

Population growth has had a tremendous impact on energy demand. The world currently counts more than 7 billion people, and this number is projected to rise to more than 8 billion by 2025 — so global energy demand will continue to grow.

The challenge of meeting that growing demand is a problem that is particularly relevant for Indonesia, currently the fourth-largest country in terms of population and aspiring to continue its economic growth and development. Already Indonesia is one of the 20 biggest energy consumers in the world. If renewable energy sources are not developed immediately, depletion of energy resources becomes a real threat.

Renewable energy use in Indonesia is still very small. We mostly depend on fossil fuels. However, the government is aiming to increase the composition of renewable energy in the energy mix, to 17 percent by 2025. The composition the government is aiming to achieve would be 5 percent biofuel, 5 percent geothermal, 5 percent biomass, nuclear, water, solar and wind combined, and 2 percent from liquefied coal.

Renewable energy will also be critical to support electricity generation. Coal is still considered the most efficient and effective power plant fuel in Indonesia. Consumption is highest in the industrial, residential and commercial sectors. However, 27 percent of the Indonesian population is still off the grid.

Natural gas

In “The Outlook for Energy: A View to 2040,” ExxonMobil predicts that natural gas will be the fastest-growing major fuel through 2040. The company expects that demand for natural gas for power generation will rise by close to 80 percent by 2040. In the transportation sector, natural gas is expected to replace oil-derived fuel due to its relative affordability and low emissions; and be used mainly in commercial vehicles.

For Indonesia, this could be a major opportunity, since the country has large reserves of natural gas. The government has also been running a program to increase the number of people who use gas for cooking at home, instead of kerosene. Not only is this cheaper, it is also more environmentally friendly. In public transportation, the TransJakarta bus system is the only one that currently makes the most of this resource.

Besides renewables, investment in natural gas production would probably be a safe bet for Indonesia, considering both the expected growth in worldwide demand and the benefits of its use domestically. Surely our natural gas can be used for more than just cooking and transportation?

The print edition is available at Jakarta Globe newspaper, 3 April 2014 edition.
Digital version: http://www.thejakartaglobe.com/business/meeting-indonesias-future-energy-challenges/

Thursday, January 30, 2014

Sustainability Results in Profit

Sustainability is often interpreted as corporate social responsibility, or  CSR. But in the presentation of “Sustainable Success: How Businesses are Profiting from Environmentally Sustainable Practices,” hosted by the Economic Section of the US Embassy at @america in Pacific Place, Jakarta, on Tuesday, 21 January 2014, several companies agreed that sustainability is not CSR.

Sustainability is about credibility and a long-term business process. A sustainable business always involves the community in its business activities; thus, the success of the company becomes the success of community as well.

Opened by Kristen F. Bauer, charge d’affaires, a.i. of the US Embassy, the presentation focused on how US businesses in Indonesia are working in innovative, and sustainable ways to have a positive impact on communities and the environment in this country.

Business decisions are not only about cutting costs and ensuring long-term profit, but also about helping the community in which business operates. Businesses do not have to choose between profit and sustainability. Taking care of environmental issues will ultimately add value and profit to businesses.

Steve Okun, director of public affairs for Asia-Pacific at Kohlberg Kravis Roberts (KKR), an investment company with deep roots in private equity, mentioned that to establish a business partnership, KKR assesses a company from a business, governance and a community perspective.
He said KKR makes investment decisions that can profitable as well as have a huge positive impact on the community.

One of the companies KKR invested in, is East Bali Cashews, based at Desa Ban in East Bali, founded by Aaron Fishman.

This is the first large-scale cashew processing facility on the island and one of the first village-based facilities in Southeast Asia. The East Bali region produces more than 3,000 tons, of cashews per year, with the company contributing 600 tons of Indonesia’s total output of 140,000 tons.

Almost all of Indonesia’s cashews are exported to India and Vietnam for processing before it is returned here for sale and consumption, resulting in the country losing precious value-added potential. While almost all packaged cashew snacks in Indonesia are imported from Singapore and Malaysia, the nuts originally come from here; so there is a high cost but lower quality cashews products.

Seeing this business opportunity, East Bali Cashews opened its own processing facility to create a value-added product, and save on shipping costs.

The results are much more favorable. Besides creating more profit, it also helps the local community. That is the concept of social enterprise, or impact investing.

East Bali Cashews now employs 180 people from the local community, with 90 percent of them women who have never had jobs before. The company is therefore making profit by empowering local women.

East Bali Cashews pays its workers daily after they finish working, with each woman earning a total of between Rp 1.000.000 and Rp 1.500.000 ($80-$120) per month.

The company also provides a day-care facility at work, so that the employees’ children can get an education while their mothers are working. East Bali Cashews believes that community development is best achieved and sustained through the empowerment of people, especially women. It also believes environmental and social sustainability in the business brings success for the company and its employees.

The waste and by-products generated by the production and processing of cashew nuts are managed optimally. The fruits can be turned into juice, or used as fertilizer. The cashew shells are processed and either utilized by the facility, or sold to brick producers as a source of energy. Fishman not only considers profitability but also the operation’s social, environmental, educational and financial impact. Those are aspects that prompted KKR to support and to be a part of East Bali Cashews.

Cargill Indonesia has adopted the same values of sustainability by developing its Sustainable Smallholder Development Program. As a global supplier of food and agricultural products, Cargill understands that building a close relationship with farmers is one of the keys to success. Having been operating in Indonesia for more than 40 years, and with more than 11,000 employees, Cargill is committed to conduct its business with integrity, to operate responsible supply chains, to uplift communities and to work to feed the world. The firm has assisted and developed smallholders in several sectors, including cocoa, coconut and palm oil.

One oil palm smallholder, who is in a partnership with Cargill, said the program has enabled them to successfully produce sustainable palm oil, which helps improve their standard of living. They have learnt how to care for their land and how to maintain its long-term productivity, ensuring that their children will have a future.

Chocolate producer Mars Indonesia is yet another example. The success of the cocoa industry has a strong relation with sustainability, the company’s president director Ruud Engbers said.

Mars, with more than 72,000 associates in 73 countries, is focusing on farmers’ prosperity, sustainable supply and responsible practices.

One of Mars’s core values is economic sustainability. This implies that when cocoa farmers are benefiting from the business, they would be happy to be cocoa farmers. Mars further aims to have zero landfill at all its factories by end of this year.

Meanwhile energy producer Chevron realizes that its oil and geothermal business has an impact to the environment. The company, operating in 180 countries and having been active in Indonesia for 88 years, adopted environmental protection as one of its key values. Chevron has made large investments to restore the environment as it aims for sustainable business practices. At the moment, the company is undertaking its Green Corridor Initiative, a program started in 2011, which involves the restoration of 500 hectares of forest between the Halimun and Salak mountains near Sukabumi, West Java.

The print edition is available at Jakarta Globe newspaper, 16 January 2014 edition.
Digital version: http://www.thejakartaglobe.com/in-focus/sustainability-and-profit/

Thursday, May 30, 2013

Hero, Hypermart, dan supermarket lainnya: Kantong Plastik Jangan Gratis!


Petition by: Tiza Mafira (via www.change.org)

Indonesia memiliki masalah serius dengan sampah. Jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari di ibukota saja bisa mencapai 6,000 ton dan tumpukannya bisa sebesar 30,000 meter kubik - lebih dari setengah ukuran candi Borobudur.

Rata-rata pemakaian kantong plastik per orang di Indonesia adalah 700 lembar per tahun. Sampah kantong plastik saja di Indonesia mencapai 4000 ton per hari atau sama dengan 16 pesawat Boeing 747, sehingga sekitar 100 milyar kantong plastik terkonsumsi per tahunnya di Indonesia. Produksi kantong plastik tersebut menghabiskan 12 juta barel minyak bumi yang tak bisa diperbaharui, yang setara dengan 11 Triliun rupiah. (Sumber: Yahoo! Indonesia dan Greeneration Indonesia)

Banyak dari sampah kantong plastik tidak sampai ke tempat pembuangan sampah dan hanya sedikit yang akhirnya dapat didaur ulang. Akibatnya sampah kantong plastik tersebut berakhir di tempat-tempat ini: sungai, saluran air got dan drainase, pantai, bahkan laut dan tempat-tempat yang menyumbat saluran air. Inilah salah satu penyebab nyata banjir yang melumpuhkan beberapa daerah di Indonesia.

Sampah kantong plastik memiliki konsekuensi lingkungan yang sangat mahal, tetapi ironisnya kantong plastik diberikan secara gratis oleh pedagang!

Karena gratis, perlu usaha yang lebih dari sekadar kesadaran diri konsumen untuk melakukan diet kantong plastik.   Supermarket merupakan penyumbang terbesar kantong plastik dan memiliki posisi yang kuat untuk mendorong konsumen mengubah kebiasaan. Dengan memberikan harga pada setiap kantong plastik, memiliki pengaruh antara lain: (1) secara ekonomis, meskipun kantong plastik satuan tidak seberapa harganya, tetapi setelah beberapa kali belanja akan lebih murah untuk membawa tas belanja sendiri ketimbang membeli kantong plastik, (2) secara psikologis, konsumen akan berfikir dulu sebelum menggunakan kantong plastik apabila petugas kasir bertanya, "apakah Anda perlu beli kantong plastik?"

Perlu diingat bahwa setiap produk yang dijual di supermarket sudah terkemas dalam kemasan higienis masing-masing. Oleh karena itu sama sekali tidak ada keharusan menggunakan kantong plastik untuk membawa belanjaan pulang ke rumah. Cukup memakai tas belanja sendiri yang dapat digunakan kembali - Bring Your Own Bag!

Kami meminta agar Hypermart, Hero Group (Hero, Giant Hypermarket, Giant Supermarket), KemChicks, Ranch Market, Famer's Market, Food Hall, Lotte Mart, Grand Lucky, Indomaret, Superindo, Alfamart dan retailer lainnya di Indonesia, untuk dapat menggunakan posisi strategisnya untuk melakukan perubahan yang baik. Carrefour sudah menerapkan kantong plastik berbayar terhadap 4 outlet di Indonesia dengan sukses.  Ini bukti bahwa perubahan bisa dan mulai dilakukan. Mari kita dukung agar semua retailer di semua outlet dapat menerapkan kebijakan tersebut!

Doronglah perubahan kebiasaan konsumen untuk beralih menggunakan tas belanja yang dapat digunakan kembali, dengan cara STOP MEMBERIKAN KANTONG PLASTIK GRATIS.

Tuesday, January 22, 2013

Jakarta banjir... (lagi) :D

Banjir lagi...banjir lagi...
Selalu cari siapa yang salah atau yang patut disalahkan atas fenomena 5-tahunan ini (sekarang sih udah ga 5 tahun, dari 2002 ke 2007 memang 5 tahun, lalu tahun ini 2013 berarti 6 tahun. Jadi sebutan banjir 5 tahunan sudah selayaknya dicopot dari istilah banjir hebat di Jakarta!). Orang Indonesia memang cepat kalo mengarang istilah yang negatif hehehe..piss ah! ;)

Balik lagi ke topik banjir. Di stasiun-stasiun televisi pasti reporter nanya kepada korban banjir: Apa harapan anda kepada pemerintah terhadap peristiwa ini? Begitulah stasiun swasta yang konon mengklaim diri sebagai stasiun televisi terpercaya, akurat, tepat, bla bla bla..tetapi dalam sehari-harinya kebanyakan kurang mendidik masyarakat atau penonton. Alih-alih malah memperkeruh suasana. Akhirnya warga Jakarta tidak pernah MERASA BERSALAH atas banjir yang menimpa ibukota tercinta ini. *big sigh*

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa sistem drainase Jakarta atau Indonesia belum sempurna, pembangunan tata kota juga belum maksimal, pembangunan gedung-gedung baru juga tidak selalu memperhatikan resapan air. Namun, sampah di ibukota juga selalu menjadi salah satu penyebab banjirnya Jakarta. Buktinya, pasca banjir sampah berserakan di mana-mana, termasuk di sungai. Kesadaran masyarakat akan membuang sampah pada tempatnya belum tumbuh merata di seluruh anggota masyarakat. Mengurangi sampah sebagai upaya pengurangan volume sampah sehari-hari juga belum menjadi budaya hidup masyarakat. Warga tidak jarang membuang sampah di angkutan umum, jalan, got, sungai dan tempat lain yang bukan tempat sampah dengan harapan ada orang lain yang akan membersihkan, dan tanpa memikirkan risiko banjir karena dilakukan pada saat musim kemarau.

Contoh kecil juga terjadi di kehidupan sehari-hari antara lain: para ibu belanja ke pasar tradisional setiap hari tidak membawa kantong dari rumah, akibatnya sampah plastik menumpuk. Belanja ke mini market hanya satu sabun mandi dan satu pasta gigi saja minta diplastikin. Sudah saatnya kita bilang kepada penjual apabila barang belanjaan kita tidak banyak: "tidak usah diplastikin mba." Bayangkan kalau 1/4 warga ibukota melakukan hal ini, berapa banyak sampah plastik dapat tercegah, dan berapa banyak penghematan yang dapat dilakukan.

Sebenarnya masih banyak contoh lain yang dapat membantu mengurangi volume sampah di sekitar kita, misalnya sampah organik rumah tangga, dapat dijadikan pupuk tanaman. Di kantor, dapat menggunakan kertas sisi yang kosong untuk mencetak dokumen yang sifatnya tidak confidential atau hanya untuk dokumentasi kerja sendiri. Banyak upaya kecil yang apabila dilakukan serentak oleh seluruh warga ibukota dapat memberi dampak signifikan.

Sudah saatnya kita tidak hanya mengharapkan hanya pihak tertentu untuk membenahi Jakarta. Terkadang warga hanya menuntut tanpa bercermin. Ingin dilayani cepat tapi tak mau mengantri. Ingin Jakarta tidak banjir tetapi masih buang sampah sembarangan. Baiknya kita melakukan apa yang jadi bagian kita, dan pemerintah melakukan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya, seperti: memperbaiki sistem drainase, memaksimalkan tempat pembuangan sampah akhir beserta upaya daur ulangnya, memantau pembangunan gedung-gedung bertingkat dan jalan layang tol/non-tol agar memperhatikan daerah resapan secara memadai, memperbanyak lahan hijau dan menghimbau masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Semoga warga, pemerintah, dan pengusaha dapat bergandengan tangan untuk membangun ibukota Jakarta yang lebih baik.

Selamat membangun Jakarta!

#PrayforJakarta

.cis.

Thursday, February 9, 2012

Uniknya Pernikahan Adat Batak

Banyak yang bilang pernikahan adat Batak itu ribet, rumit. Pendapat ini sebenarnya ga salah-salah banget, tapi ga sepenuhnya benar juga. Namanya mempersiapkan pernikahan dimana-mana pasti ga mudah. Pernikahan setiap daerah tentunya punya keunikan tersendiri. Berhubung eike asli Batak totok, yang eike paham ya pernikahan adat Batak, ini pun mengerti ketika sudah melalui prosesnya. Bagi yang tidak memahami budaya Batak sama sekali mungkin berpendapat bahwa adat Batak ini rumit sekali; jujur saja awalnya saya pun berpendapat demikian. Tetapi setelah menjalani sendiri rangkaian acaranya, tahap demi tahap, dan berlangsung dengan lancar, at the end I would say: Wow, this is a fascinating wedding! Hehehe bangga dikit boleh donk :D

Keunikan-keunikan yang ada di pernikahan Batak antara lain:

1. Tanggal pernikahan
Nentuin tanggal ga perlu pakai hitung-hitungan kalender atau pilih-pilih hari baik karena pada dasarnya semua hari baik. Jadi penentuan tanggal awalnya hanya sesimpel dengan melihat: kapan gedungnya available?? Hahahaha..simpel kan? Kalo gedung available, keluarga sepakat, tinggal siapin selanjutnya. Untuk keluarga besar lainnya tinggal dikabarin ajah.. Hanya saja perencanaan gedung sedikit berbeda (yah namanya jg unik, harus beda dong :D). Minimal 6 bulan (sebaiknya 9-12 bulan) sebelum rencana pernikahan sudah cari/booking gedung, maklum gedung adat Batak terbatas ga sebanyak gedung nasional, jadi bookingnya kudu jauh-jauh hari.

2. Hanya 1 hari!
Hampir semua pernikahan adat Batak dilangsungkan dalam 1 hari: pemberkatan dan pesta adat/resepsi. Dan waktunya berurutan dari pemberkatan langsung acara pesta (umumnya jam makan siang). Biasanya tidak ada jeda waktu yang panjang dari pemberkatan ke pesta sehingga tidak perlu bolak-balik pulang pergi, bolak balik dandan, bolak balik copot baju :D. Yang pasti akan lebih ringkas karena sekali jalan/urutan. Tetapi memang waktu pesta adat Batak lebih panjang dari pesta Nasional karena ada urutan-urutan adat-istiadat yang tidak boleh dihilangkan.

3. Duduk manis
Pengantin Batak itu kewajibannya cuma dua: duduk manis dan tebar senyum aja, karena semua perencanaan itu dikerjakan oleh orang tua dan keluarga besar. Biasanya pengantin belum paham betul rentetan adat, jadi ini merupakan hajatnya ortu. Pengantin hanya mengikuti apa yang diinstruksikan ortu, mengenai teknisnya ortu yang akan in charge dibantu oleh anggota keluarga besar yang memiliki peran dan fungsi masing-masing.

4. Marsibuha-buhai (sarapan pagi bersama)
Ini merupakan urutan pertama di hari pernikahan. Pengantin laki-laki datang untuk menjemput pengantin perempuan, lalu sarapan bersama dengan kedua keluarga mempelai. Pengantin perempuan dan laki-laki make up terpisah di tempat masing-masing, jadi ketika pengantin laki-laki menjemput pengantin perempuan, akan dapat kejutan: cling! Mempelai wanita nan cantik jelita siap melangkah ^_^
Di dalam marsibuha-buhai juga diadakan doa bersama untuk memberangkatkan kedua mempelai. Di acara ini pula orang tua perempuan memberikan suapan sarapan kepada kedua mempelai disertai doa dan restu kepada mempelai.

5. Meraup angpao
Nahh..dijamin di pernikahan lain ga ada acara ginian :D Ini merupakan bagian favorit saya, di mana pengantin perempuan dipersilakan untuk meraup angpao (baca: tumpak (dalam bahasa Batak)) dengan satu tangan kanan. Boleh sebanyak-banyaknya, tapi ingat, hanya dengan satu tangan. Saya punya tip jitu untuk dapat meraup angpao sebanyak mungkin (bagi yang mau tau caranya hubungi saya :D). Asikkk dapat jatah bok! Hahahahaha...
Photo: personal doc. Senyum sumringah sehabis meraup angpao, amankan di kantong jas :D
6. Mangulosi
Bahasa Indonesianya: diulosin. Acara di mana anggota-anggota keluarga tertentu memiliki kewajiban untuk memberikan ulos kepada pengantin. Bukan cuma sekedar kasi ulos, tapi ketika ulos dikembangkan bagi kedua mempelai, ada doa-doa dan nasihat yang disertakan untuk kedua mempelai. Rasanya haruuuuu banget T___T. Acara mangulosi ini pertama kali dilakukan oleh orang tua perempuan, diikuti dengan keluarga lain. Iringan lagu mangulosi oleh orang tua perempuan biasanya berjudul "Boru Panggoaran" atau "Uju Ni Ngolungkon Ma Nian". Dijamin berurai air mata.

Sebenarnya masih banyak keunikan-keunikan lainnya, namun saya highlight bagian-bagian yang terunik menurut saya. Intinya buat saya pernikahan Batak menarik dan khas, baik di persiapannya, maupun pada saat pesta berlangsung. Saya bangga telah melangsungkan pernikahan dengan adat Batak, karena dengan demikian saya turut melestarikan budaya Batak, yang merupakan kekayaan budaya Indonesia juga. Buat suku Batak yang belum menikah, ada baiknya momen sekali seumur hidup ini dilangsungkan dengan pesta adat yang tak terlupakan ini.

Selamat mempersiapkan pernikahan.. lancar dan sukses selalu! ^_^

.cis.
© Stories from An Affogato Lover
Maira Gall