Monday, April 27, 2015

Kenalin Supir Pribadi Saya, Uber.

Sudah pernah coba berkendara atau 'naxi' pakai Uber? Kalau belum, 'taxi' yang satu ini patut dicoba. Bukan sekedar taxi, tapi serasa supir pribadi, seperti tagline-nya: Everyone's Private Driver.

Kehadiran Uber meramaikan produk layanan transportasi berbasis app seperti Grab Taxi dan Gojek. Pengguna harus mendownload terlebih dahulu aplikasi Uber di smartphone, mendaftar, setelah itu dapat menggunakan jasa transportasi ini. Uber memiliki beberapa kelebihan dibanding transportasi publik lainnya, yaitu:

1. Mobil Pribadi
Kendaraan yang didaftarkan supir Uber adalah mobil pribadi. Bisa Toyota Avanza, Kijang Innova, dan lain-lain. Mobil tidak dapat dipilih; mobil yang didapat tergantung dari ketersediaan mobil dan supir di saat memesan. Uber memberi pilihan kepada pelanggan untuk memilih jasanya, yaitu UberX dengan kendaraan sejenis Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, sedangkan yang premium yaitu UberBlack, dengan kendaraan mulai Kijang Innova hingga Toyota Alphard. Kalau jalan-jalan pakai Uber, ngga ketauan kalau itu bukan mobil kita, serasa mobil pribadi aja hahaha...

2. Cashless
Ngga perlu bayar tunai! Di saat terpaksa pulang larut, hujan deras, dan tidak pegang uang cash sama sekali, tidak perlu kuatir, karena di dalam aplikasi ini tidak ada transaksi tunai kecuali parkir dan tol. Ongkos perjalanan akan ditagihkan ke kartu kredit yang diinput di awal pendaftaran. Setelah selesai perjalanan, Anda akan dikirimkan resi perjalanan Anda.

3. Relatif lebih murah
Yap! Beneran lebih murah dibanding beberapa merek taxi yang biasa saya gunakan. Jarak 7 km, dari Taman Menteng ke Gatot Subroto di hari Jumat, kondisi sedang tidak terlalu macet dan tidak terlalu sepi, dengan lama perjalanan sekitar 28 menit, tarifnya hanya Rp25.500. Tidak perlu tip, tidak ada biaya tambahan apapun. Apabila menggunakan taxi lain dengan jarak serupa, biayanya sekitar Rp40.000.
Resi perjalanan Uber
4. Ada promo
Pada saat menggunakan jasa Uber pertama kali, Anda akan dikirimkan notifikasi melalui email "Congratulations On Your First Uber Ride". Di dalam notifikasi tersebut Anda akan diberikan kode promo untuk mendapatkan potongan harga. Kode promo ini dapat Anda informasikan kepada teman, saudara, sahabat atau siapapun. Apabila teman Anda menggunakan kode promo ini, selain ia mendapatkan potongan harga, Anda juga akan diberikan reward serupa.
Kode promo Uber, silahkan digunakan :)
5. Aman
Keamanan tentu merupakan salah satu hal utama dalam berkendara. Sejauh ini pengalaman saya menggunakan Uber tergolong aman. Semoga aman terus ya!

Selamat mencoba.

.cis.

Sunday, April 26, 2015

Belajar Bijak

Menjadi figur apapun di dalam hidup ini tidak akan selalu mudah. Anak mengira lebih enak menjadi seorang Ayah, bisa tinggal perintah, tinggal suruh ini itu. Padahal tanggung jawab seorang Ayah sangat besar di dalam keluarga. Begitu pun seorang Ibu; mungkin terkadang mungkin ada kalanya ingin kembali seperti anak kecil yang hanya perlu merengek apabila ingin meminta sesuatu.

Semakin usia bertambah, semakin pula ada kewajiban untuk menjadi lebih bijaksana. Siapa yang tidak ingin disebut Ayah bijak, Ibu bijak, Anak bijak? Seseorang yang bijaksana tidak hanya baik, namun dapat mengambil keputusan yang benar dengan cara yang tepat.

Sekarang ini tidak kurang tips-tips psikologi di internet, seminar, sharing tentang menjadi orang atau orangtua bijak. Dari sekian yang kita sudah dengar, baca, ketahui, namun satu yang paling sulit dilakukan yaitu menerapkannya dalam hidup sehari-hari! Bersikap bijak itu harus dilatih, tidak bisa otomatis. Bijak itu soal belajar, bukan talenta.
Menjadi bijak bagi sebagian orang mungkin mudah, namun tidak bagi beberapa orang.

Beberapa waktu lalu saya dihadapkan dengan kondisi dimana saya harus bersikap bijak. Saat ini saya memiliki putra berusia 1 tahun 9 bulan, belum lepas ASI. Saya masih menyusui meskipun produksi ASI saya sudah sangat menipis, dan saya masih berusaha untuk memompa berapa pun hasilnya. Saat itu sudah malam, dan saya menghangatkan ASIP untuk anak saya sebelum tidur. Namun anak saya menolah ASIP tersebut dan merengek bahkan menangis sedih karena mengharapkan menyusui langsung.

Jujur saya sedih membayangkan harus membuang ASI 120 ml itu. Dilema. Membiarkan anak saya menangis dan tidak menyusuinya, memaksanya minum ASIP meskipun menjerit, atau dengan lapang dada merelakan ASIP terbuang dan memilih menyusui langsung?

Apa yang akan Anda pilih apabila ada di posisi saya? Haruskah saya mempertahankan ego, waktu yang dicurahkan untuk memompa, tenaga yang diupayakan agar menghasilkan ASIP? Atau mengalah demi buah hati yang merindukan pelukan sang Ibu sambil menyusui? Haruskan saya melampiaskan kekecewaan kepada sang buah hati yang tidak akan dapat mengerti susah payah perjuangan Ibunya untuk menyediakan ASIP baginya?

Saya memilih ASIP terbuang dan melihat anak saya nyaman dan tertidur lelap di pelukan saya sambil menyusui. Dan saya menikmati waktu-waktu dimana anak saya membutuhkan pelukan erat seorang Ibu. Sebentar lagi usianya 2 tahun, dan tidak akan menyusu lagi, saya tidak mau melewatkan momen menyusui yang hanya tinggal sebentar lagi.

Anak bukanlah seorang dewasa yang terbungkus di dalam tubuh seorang anak kecil. Baiklah yang lebih dewasa menempatkan diri di kaki seroang anak, dan bukan berharap sebaliknya.

Sudahkah Anda bersikap bijak hari ini, kepada suami, istri, orang tua, anak, kakak dan sahabat? Jika belum, maka mulailah.

.cis.

Saturday, April 25, 2015

Facial di Rumah? Mudah dan Menyenangkan dengan Sothys


Beberapa hari yang lalu saya meeting dengan seorang teman dari perusahaan produk perawatan kulit ternama dari Perancis. Meetingnya menyenangkan. Yang lebih menyenangkan lagi, saya diberi suvenir berupa produk perawatan kulit itu! Yap, namanya Sothys. Ada banyak rangkaiannya. Mulai dari pembersih wajah hingga masker dan krim malam.

Pada saat meeting, teman saya bilang kulit wajah saya dehidrasi, dan itu tampak jelas. Saya agak kaget juga, baru sadar kulit wajah saya jauh dari sehat, hiks.. :( Yah wajar sih, sudah lama sekali saya tidak melakukan perawatan wajah secara khusus. Sejak hamil, melahirkan, bekerja sambil mengurus anak, rasanya sudah ngga punya banyak waktu untuk mengurus wajah (serasa paling sibuk di dunia x_x). Kira-kira dua tahun terakhir ini saya sudah tidak pernah facial, maskeran, dan memakai krim malam. Membersihkan muka selalu pakai sabun muka, tidak pakai susu pembersih. Bekal wajah hanya pelembab di pagi hari.

Teman saya meng-encourage untuk melakukan perawatan wajah sendiri di rumah. Ngga perlu ke salon atau klinik kecantikan. Lalu saya diterangkan satu per satu kegunaan dan langkah-langkah penggunaan produk. 1..2..3. Lalu saya mulai dengan Morning Cleanser, dilanjut dengan Desquacrem yang berguna untuk menghilangkan komedo. Setelah itu saya pakai Masque nutri-appaisant, masker yang bertekstur krim, tidak seperti masker pada umumnya yang berbentuk bubuk dan dicampur dengan air mawar atau air biasa. Rampung dengan masker, saya lanjut perawatan wajah dengan Serum SOS apaisant dan diakhiri dengan Hydroptimale THI3, krim ringan yang menghidrasi kulit. Seru juga face spa sendiri di rumah. Hanya butuh kurang lebih 30 menit untuk melakukan semua rangkaian.

Hasilnya mungkin tidak bisa langsung tampak wajah saya mulus dan sebagainya, namun saya pribadi merasakan setelah melakukan satu kali saja rangkaian perawatan wajah ini, kulit wajah saya terasa lembab, kenyal dan segar. Sebelumnya kering, kasar dan kusam. Ini karena kandungan pelembab dari produk Sothys yang tinggi sehingga bekerja maksimal di kulit wajah saya yang membutuhkan kelembababan. Formulanya bebas sabun, jadi jangan cari busa kalo memakai produk Sothys. Meski tanpa busa, produknya nyata membersihkan kulit. Kulit yang kering sekali atau dehidrasi ternyata lebih mudah menimbulkan minyak. Itulah yang saya rasakan sebelumnya, wajah saya kering namun berminyak.

Sekarang saya sudah dua kali perawatan, dan saya melakukan perawatan ini secara kontinyu untuk menjaga keremajaan dan kesehatan kulit wajah saya.

Semoga besok-besok dapat produk Sothys lagi :D

Terima kasih Sothys :)

Wednesday, April 15, 2015

Belajar dari Tukang Pijat

Photo credit: flickr.com Tara Angkor Hotel
Salah satu hal yang menguntungkan dari lokasi gedung kantor tempat saya bekerja yaitu ada tempat pijat refleksi di sebelahnya. Lokasinya persis di sebelah kanan gedung kantor saya, dan berada di dalam gedung perkantoran yang cukup terkenal di wilayah Gatot Subroto. Ketika saya merasa kurang sehat atau badan terasa begitu lelah, kadang saya menyempatkan diri ke tempat pijat refleksi tersebut di jam istirahat dan memanjakan diri dengan sentuhan piawai terapis refleksi.

Saya memiliki terapis langganan. Pijatannya pas, tidak menyakitkan, namun bertenaga. Selesai pijat saya selalu merasa segar kembali, siap tempur di meja kerja. Bagian yang menyenangkan dari terapis ini adalah dia tidak segan-segan memberikan layanan pijat melebihi dari apa yang seharusnya didapat pelanggan. Area pijat utamanya adalah kaki dan punggung. Namun terapis ini selalu menawarkan area lain untuk dipijat, misal muka (seperti totok wajah) dan kepala. Apabila sekali ditawarkan pelanggan bersedia untuk diberikan layanan tambahan, di kemudian hari dia tidak akan menawarkan kembali, namun langsung memberikan layanan tambahan tersebut kepada pelanggan. Karena terlihat tulus dan serius dalam melayani pelanggan, saya tidak segan-segan memberikan tip lebih kepada terapis ini.

Beda hal dengan pegawai kantor. Sering kali saya mendengar celetukan atau ocehan pegawai kantor yang bilang: "Jangan bilang bisa, nanti kalau sudah bisa, jadi keterusan." Beberapa pegawai kantor enggan melakukan pekerjaan yang melampaui kemampuannya. "Kalau lo mau ngerjain ini, besok-besok pasti disuruh lagi karena dianggap bisa. Tapi gaji ga nambah-nambah." Bagaimana gaji mau nambah, skill pegawainya pun ngga nambah-nambah. Tanpa disadari ini juga menjadi hal yang merugikan karyawan sendiri, jadinya stuck, ga maju-maju. 

Tujuan saya menulis artikel ini bukan untuk menyindir para pegawai kantor ataupun bertindak sebagai wakil perusahaan (gimana mau wakilin, punya aja engga?! LOL), tapi mau mengajak para pegawai kantoran -yang masih berniat kerja di kantor untuk waktu yang lama, serta passion-nya emang ngantoran- untuk ga pelit sama diri sendiri, mau belajar, mau mencoba, mau memberi layanan yang lebih dengan cara yang bijak (baca: BIJAK!). Kalau memang sudah memberi yang terbaik pasti ada impactnya di kemudian hari. Bisa saja tidak berbentuk materi langsung, tetapi berupa knowledge, network, nama baik, dan lain sebagainya. 

Bukan tidak mungkin terapis refleksi itu bisa membuka tempat pijat refleksi sendiri nantinya, dengan langganan yang dia punya, layanan yang dia berikan, hubungan yang dia bangun dengan pelanggan. Apabila suatu saat nanti, saya, atau Anda, yang saat ini masih jadi pegawai kantoran, juga bisa buka kantor sendiri, nikmat banget kan?

A big success sometimes begins with a willingness to dream and do big.

.cis.

Wednesday, April 8, 2015

Tips Cermat Berhemat buat Para Ibu Hebat

Photo credit: flickr.com, Heidi Pungartnik, www.thriftytricks.com
Bagi sebagian orang, berhemat bukan hal yang mudah. Bukan hanya karena godaan berbelanja begitu besar khususnya di ibukota tercinta ini, tapi juga biaya kebutuhan hidup dan hal-hal yang menjadi pelengkapnya saat ini relatif tinggi. Hemat bukan berarti harus pelit, bukan berarti tidak bisa menikmati hidup. Hemat memberi nilai tambah buat kehidupan keluarga para Ibu, sebagai manajer keuangan di rumah. Hemat itu bisa jadi asyik lho! Berikut beberapa tips berhemat seru dimana Ibu dan keluarga tetap bisa menikmati indahnya hidup.

1. Weekend nge-mal
Tarraaa.. it's weekend! Bagi sebagian penduduk Jakarta, nge-mall pada saat weekend atau hari libur merupakan salah satu hiburan. Pergi ke mal dianggap hiburan murah karena tidak perlu ada tiket masuk mal. Namun, apabila Ibu tidak jeli, kegiatan nge-mal juga bisa jadi hal yang boros, karena tanpa sadar Ibu mengeluarkan banyak uang untuk membeli makanan, camilan, mainan anak, barang-barang dan sebagainya. Untuk menyiasati berhemat nge-mal pada saat weekend, usahakan berangkat setelah makan siang dan pulang sebelum makan malam. Ketika keluarga makan siang di rumah dan perut dalam keadaan kenyang, di mal Ibu tidak perlu mengeluarkan kocek untuk makan berat lagi. Setelah puas nge-mal, aturlah waktu agar sampai di rumah di saat jam makan malam sehingga biaya makan malam dapat dihemat. Dengan demikian uang makan siang dan malam dapat dialokasi untuk kegiatan lainnya seperti bermain anak atau membeli camilan. Apabila Ibu makan siang dan malam tidak di mal, maka Ibu dapat menghemat uang sekitar Rp200.000-Rp300.000 ribu per minggu, dan sebulan dapat menghemat pengeluaran hingga Rp400.000 hingga Rp600.000 (Asumsi ke mal 2x dalam 1 bulan).

2. Hindari Berkali-kali ke mal dalam satu bulan (hemat bayar parkir)
Mungkin Ibu berkali-kali ke mal dalam satu bulan untuk tujuan yang berbeda. Hari ini belanja bulanan, minggu depan mengajak anak bermain, esoknya lagi makan bersama, dan seterusnya. Ingat, berkali-kali ke mal dalam 1 bulan tidak hanya dapat menggoda Ibu untuk membeli hal yang tidak perlu, namun mengharuskan berkali-kali membayar tiket parkir. Apabila ke mal, upayakan untuk melakukan banyak kegiatan yang diperlukan sekaligus. Catat senantiasa keperluan anda di ponsel agar ketika ke mal, anda sekaligus melakukannya. Apabila anda biasa ke mal 6 kali dalam sebulan, kurangi menjadi 2 kali. Dengan demikian tiket parkir yang dapat anda hemat kurang lebih Rp40.000 hingga Rp60.000.

3. Satu handphone cukup
Sekarang ini banyak orang yang menggunakan lebih dari satu ponsel. Entah karena memiliki banyak keperluan, atau tergoda dengan ponsel termutakhir. Apabila Ibu ingin berhemat, cukup gunakan satu ponsel untuk semua keperluan. Dua ponsel berarti: dua kali mengisi ulang pulsa atau membayar tagihan, dua kali mengisi ulang baterai ponsel (tidak hemat listrik), serta membeli dua sarung ponsel (aksesoris). Dengan menggunakan satu ponsel saja setiap bulan, bisa jadi Ibu menghemat Rp100.000 setiap bulannya.

4. Gunakan listrik dengan bijak, lalu hitung penghematannya
Matikan lampu dan AC apabila tidak sedang digunakan. Cabut kabel dari stop kontak untuk peralatan elektronik yang tidak sedang dipakai (microwave, blender, televisi, audio player, charger ponsel/tablet/laptop). Kemudian hitung penghematannya dalam satu bulan biaya listrik keluarga, apabila Ibu sudah menerapkan hal-hal tersebut. Menghemat biaya listrik Rp20.000 per bulan, lumayan kan?

Apabila Ibu menerapkan tips tersebut, maka dalam satu tahun Ibu dapat menghemat pengeluaran hingga Rp9.000.000! Hebat bukan?! Dan dana ini bisa Ibu alokasi untuk tabungan pendidikan anak. Dengan demikian anda akan menjadi Ibu cermat, hemat dan hebat!
Selamat menikmati hidup yang bernilai tambah :)

.cis.

Thursday, April 3, 2014

Meeting Indonesia’s Future Energy Challenges

Have you ever thought about what your life would be like without access to energy? No light in the morning — nor coffee or toast. You couldn’t drive to work and there would be no way to connect with others around the world. Energy is the key enabler for all of our day-to-day activities, and for the economy.

Access to reliable and affordable energy supplies continues to improve our lives. The question is, how long will we be able to benefit from the energy supply that we need so much today?

Growing demand

Population growth has had a tremendous impact on energy demand. The world currently counts more than 7 billion people, and this number is projected to rise to more than 8 billion by 2025 — so global energy demand will continue to grow.

The challenge of meeting that growing demand is a problem that is particularly relevant for Indonesia, currently the fourth-largest country in terms of population and aspiring to continue its economic growth and development. Already Indonesia is one of the 20 biggest energy consumers in the world. If renewable energy sources are not developed immediately, depletion of energy resources becomes a real threat.

Renewable energy use in Indonesia is still very small. We mostly depend on fossil fuels. However, the government is aiming to increase the composition of renewable energy in the energy mix, to 17 percent by 2025. The composition the government is aiming to achieve would be 5 percent biofuel, 5 percent geothermal, 5 percent biomass, nuclear, water, solar and wind combined, and 2 percent from liquefied coal.

Renewable energy will also be critical to support electricity generation. Coal is still considered the most efficient and effective power plant fuel in Indonesia. Consumption is highest in the industrial, residential and commercial sectors. However, 27 percent of the Indonesian population is still off the grid.

Natural gas

In “The Outlook for Energy: A View to 2040,” ExxonMobil predicts that natural gas will be the fastest-growing major fuel through 2040. The company expects that demand for natural gas for power generation will rise by close to 80 percent by 2040. In the transportation sector, natural gas is expected to replace oil-derived fuel due to its relative affordability and low emissions; and be used mainly in commercial vehicles.

For Indonesia, this could be a major opportunity, since the country has large reserves of natural gas. The government has also been running a program to increase the number of people who use gas for cooking at home, instead of kerosene. Not only is this cheaper, it is also more environmentally friendly. In public transportation, the TransJakarta bus system is the only one that currently makes the most of this resource.

Besides renewables, investment in natural gas production would probably be a safe bet for Indonesia, considering both the expected growth in worldwide demand and the benefits of its use domestically. Surely our natural gas can be used for more than just cooking and transportation?

The print edition is available at Jakarta Globe newspaper, 3 April 2014 edition.
Digital version: http://www.thejakartaglobe.com/business/meeting-indonesias-future-energy-challenges/

Thursday, January 30, 2014

Sustainability Results in Profit

Sustainability is often interpreted as corporate social responsibility, or  CSR. But in the presentation of “Sustainable Success: How Businesses are Profiting from Environmentally Sustainable Practices,” hosted by the Economic Section of the US Embassy at @america in Pacific Place, Jakarta, on Tuesday, 21 January 2014, several companies agreed that sustainability is not CSR.

Sustainability is about credibility and a long-term business process. A sustainable business always involves the community in its business activities; thus, the success of the company becomes the success of community as well.

Opened by Kristen F. Bauer, charge d’affaires, a.i. of the US Embassy, the presentation focused on how US businesses in Indonesia are working in innovative, and sustainable ways to have a positive impact on communities and the environment in this country.

Business decisions are not only about cutting costs and ensuring long-term profit, but also about helping the community in which business operates. Businesses do not have to choose between profit and sustainability. Taking care of environmental issues will ultimately add value and profit to businesses.

Steve Okun, director of public affairs for Asia-Pacific at Kohlberg Kravis Roberts (KKR), an investment company with deep roots in private equity, mentioned that to establish a business partnership, KKR assesses a company from a business, governance and a community perspective.
He said KKR makes investment decisions that can profitable as well as have a huge positive impact on the community.

One of the companies KKR invested in, is East Bali Cashews, based at Desa Ban in East Bali, founded by Aaron Fishman.

This is the first large-scale cashew processing facility on the island and one of the first village-based facilities in Southeast Asia. The East Bali region produces more than 3,000 tons, of cashews per year, with the company contributing 600 tons of Indonesia’s total output of 140,000 tons.

Almost all of Indonesia’s cashews are exported to India and Vietnam for processing before it is returned here for sale and consumption, resulting in the country losing precious value-added potential. While almost all packaged cashew snacks in Indonesia are imported from Singapore and Malaysia, the nuts originally come from here; so there is a high cost but lower quality cashews products.

Seeing this business opportunity, East Bali Cashews opened its own processing facility to create a value-added product, and save on shipping costs.

The results are much more favorable. Besides creating more profit, it also helps the local community. That is the concept of social enterprise, or impact investing.

East Bali Cashews now employs 180 people from the local community, with 90 percent of them women who have never had jobs before. The company is therefore making profit by empowering local women.

East Bali Cashews pays its workers daily after they finish working, with each woman earning a total of between Rp 1.000.000 and Rp 1.500.000 ($80-$120) per month.

The company also provides a day-care facility at work, so that the employees’ children can get an education while their mothers are working. East Bali Cashews believes that community development is best achieved and sustained through the empowerment of people, especially women. It also believes environmental and social sustainability in the business brings success for the company and its employees.

The waste and by-products generated by the production and processing of cashew nuts are managed optimally. The fruits can be turned into juice, or used as fertilizer. The cashew shells are processed and either utilized by the facility, or sold to brick producers as a source of energy. Fishman not only considers profitability but also the operation’s social, environmental, educational and financial impact. Those are aspects that prompted KKR to support and to be a part of East Bali Cashews.

Cargill Indonesia has adopted the same values of sustainability by developing its Sustainable Smallholder Development Program. As a global supplier of food and agricultural products, Cargill understands that building a close relationship with farmers is one of the keys to success. Having been operating in Indonesia for more than 40 years, and with more than 11,000 employees, Cargill is committed to conduct its business with integrity, to operate responsible supply chains, to uplift communities and to work to feed the world. The firm has assisted and developed smallholders in several sectors, including cocoa, coconut and palm oil.

One oil palm smallholder, who is in a partnership with Cargill, said the program has enabled them to successfully produce sustainable palm oil, which helps improve their standard of living. They have learnt how to care for their land and how to maintain its long-term productivity, ensuring that their children will have a future.

Chocolate producer Mars Indonesia is yet another example. The success of the cocoa industry has a strong relation with sustainability, the company’s president director Ruud Engbers said.

Mars, with more than 72,000 associates in 73 countries, is focusing on farmers’ prosperity, sustainable supply and responsible practices.

One of Mars’s core values is economic sustainability. This implies that when cocoa farmers are benefiting from the business, they would be happy to be cocoa farmers. Mars further aims to have zero landfill at all its factories by end of this year.

Meanwhile energy producer Chevron realizes that its oil and geothermal business has an impact to the environment. The company, operating in 180 countries and having been active in Indonesia for 88 years, adopted environmental protection as one of its key values. Chevron has made large investments to restore the environment as it aims for sustainable business practices. At the moment, the company is undertaking its Green Corridor Initiative, a program started in 2011, which involves the restoration of 500 hectares of forest between the Halimun and Salak mountains near Sukabumi, West Java.

The print edition is available at Jakarta Globe newspaper, 16 January 2014 edition.
Digital version: http://www.thejakartaglobe.com/in-focus/sustainability-and-profit/
© Stories from An Affogato Lover
Maira Gall