Wednesday, November 18, 2015

Pengalaman Pertama Naik KRL Commuter Line Jabodetabek

Stasiun Palmerah ada ruang menyusuinya lho!
Kali ini saya mau share pengalaman naik Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line Jabodetabek. Dulu saya ga pernah terpikir untuk menjadikan kereta sebagai transportasi utama saya untuk bekerja. Pertama, karena lokasi tempat tinggal saya dulu cukup dekat dengan kantor dan terjangkau dengan angkutan umum (bis). Kedua, saya ngeri dengar pengalaman teman-teman roker (rombongan kereta) dimana menurut mereka naik kereta itu penuh perjuangan, desak-desakan, penuhnya pol sampe ga ada ruang buat nengok kiri kanan. Belum lagi dorong-dorongannya, harus bertarung dengan penumpang lain yang ga sabaran, sikut sana sikut sini. Mana setiap transit di stasiun cuma 5 menit, kalo ga gerak cepat bisa kebablasan ke stasiun berikutnya.

Tapi semua itu berubah ketika saya pindah lokasi tempat tinggal ke wilayah yang lebih jauh dari tempat saya bekerja. Sebelumnya saya tinggal di dekat mal Gandaria City, ngga perlu kereta, ga perlu ojeg, macet juga ga seberapa. Naik motor ke Gatot Subroto 35 menit. Ke mana-mana ga perlu kendaraan pribadi. Ada macam-macam angkutan umum yang bisa saya gunakan dari bus hingga bajaj. Akses strategis, bebas banjir. Buat saya yang sejak kecil sudah tinggal di sini: this is the best residential area ever! (Lho kok jadi kayak agen properti? Lol!)

Sekarang adalah hari keempat saya tinggal di lokasi yang baru, di Pondok Aren. Sebenarnya ngga jauh-jauh banget sih, tapi lumayan nambah 30-40 menit dari Gandaria City (dengan motor) atau 45-60 menit dengan mobil. Jarak tempuh yang lebih panjang ini membuat saya mencari upaya konkrit buat cepat sampe rumah (biar cepat ketemu anak ^_^).

Beberapa teman kantor yang tinggal di Bintaro atau Pamulang memilih naik kereta sebagai transportasi utama. Saat mendengar testimoni mereka bahwa naik kereta itu cuma 15-20 menit dibanding dengan naik mobil atau angkutan umum (bis/angkot) yang bisa sampe 1,5 jam dengan jarak tempuh yang sama, saya langsung tertarik buat mencoba. Gimana engga, bisa hemat waktu sampai berkali-kali lipat.

Pendeknya, setelah cari info sana-sini saya penasaran coba pulang kantor naik kereta. Lalu sampailah saya di stasiun Palmerah hari Senin lalu tepatnya pk. 18.35, naik Gojek (ehm, Gojek dapat branding nih :D). Begitu sampai di stasiun, saya berdecak kagum melihat bangunan stasiun yang bagus. Ga nyangka kalo stasiunnya sebagus ini (maap sebelumnya, ga maksud meremehkan, tapi beberapa stasiun yang pernah saya lewatin itu jarang ada yang bagus, contoh stasiun Kebayoran Lama). Karena ga mau kehilangan momen, saya foto-foto aja sementara calon penumpang lain buru-buru setengah berlari ngejar jadwal kereta.

Sampai di dalam, saya menuju loket. Di situ dicantumkan harga tiket Rp2.000 untuk 25 km pertama dan Rp1.000 untuk km selanjutnya. Sangat terjangkau. Ongkos bis aja udah Rp4.000 untuk jarak tempuh relatif dekat. Saya membayar tiket menggunakan e-toll card Mandiri. Bagi yang baru pertama kali menggunakan kereta dengan kartu bayar elektronik, diharuskan mengaktivasi kartu di box yang tersedia. Caranya mudah, dekatkan kartu, kemudian alat tersebut akan meng-scan kartu kita. Apabila sudah muncul saldo Rupiah di dalam kartu tersebut, artinya kartu sudah bisa digunakan untuk naik kereta. Setelah itu, tempelkan kartu di palang otomatis (seperti mau naik busway), dan penumpang siap menuju peron untuk naik kereta yang dituju.

Setelah itu saya menuju ke bawah dengan eskalator menuju Peron 1. Saya akan turun di Stasiun Jurangmangu. Keretanya penuh luar biasa. Namun beberapa teman bilang naik kereta di atas pk. 18:30 sudah cukup lengang, lebih penuh lagi di jam pulang kantor, pk. 17:00 - 18:00. Lalu saya naik kereta (lebih tepatnya nyempil), dan berhasil berdiri tepat di depan pintu kereta. Jam menunjukkan pk. 19:00. Ga lama berjalan, kereta sudah sampai di Stasiun Kebayoran Lama, transit sebentar, lalu lanjut lagi dan transit di Stasiun Pondok Ranji. Setelah Pondok Ranji, kereta berhenti di Stasiun Jurangmangu tempat tujuan saya. Lalu saya lanjut foto-foto stasiun Jurangmangu. Sebenarnya pengen selfie di dalam kereta tapi belum kesampean karena kereta penuh :D

Enaknya, Stasiun Jurangmangu ini tepat bersebelahan dengan Bintaro Jaya Echange (BXchange). Jadi dari stasiun bisa langsung ngemall hehehe. Satu hal yang disayangkan, tidak ada angkutan umum di area Stasiun Jurangmangu, jadi harus naik ojek atau taxi. Akhirnya saya memilih panggil Uber menuju tempat tinggal. Hanya 15 menit dari BXchange ke Pondok Aren. Total waktu perjalanan saya adalah sbb:
Gatot Subroto - Stasiun Palmerah: 15 menit dengan Gojek
Stasiun Palmerah - Stasiun Jurangmangu: 20 menit dengan kereta
Stasiun Jurangmangu - Pondok Aren: 15 menit dengan Uber
Total waktu perjalanan:
Dengan kereta: 50 menit.
Dengan motor: 60-65 menit
Dengan taxi/mobil/angkutan umum: 90-120 menit.

Nah, bagi yang mau coba naik kereta, monggo.. sangat direkomendasikan sebagai solusi transportasi jarak jauh, anti macet dan relatif terjangkau.

Berikut foto-foto hasil jepretan saya ala kadarnya. Semoga bermanfaat ^_^.
Jembatan menuju stasiun
 

Stasiun Palmerah


Menuju loket pembelian karcis
Loket pembelian karcis (antrinya teratur lho!).
Palang pintu otomatis untuk masuk peron.
Calon penumpang
Stasiun Jurangmangu

Stasiun Jurangmangu

Stasiun Jurangmangu
Exit Mal Bintaro Exchange dari Stasiun Jurangmangu
Bintaro Exchange berlokasi tepat di samping Stasiun Jurangmangu
.cis.

Wednesday, November 4, 2015

Live Like Chocolate

This small tip might make your life happier. Simply live your life like a chocolate.
live like chocolate

Wednesday, October 7, 2015

Peluncuran Blogger Babes Indonesia

Kini Blogger Babes Asia hadir di Indonesia! Selasa hari ini (06/10), ballroom Hotel Intercontinental Midplaza dipadati oleh para female bloggers yang antusias mengikuti seminar dan gathering di acara Launching Blogger Babes Indonesia yang diselenggarakan oleh Clozette Indonesia. Hadir sebagai pembicara, dua blogger sukses Indonesia, Fifi Alfianto dan Diana Rika Sari, serta founder Blogger Babes Asia, Heidi Nazarudin, berbagi pengalaman dan tips kepada para blogger Indonesia. Acaranya sangat menarik. Heidi berbagi tips bagaimana menjadi blogger sukses hingga dapat memonetisasi blog pribadinya. Tips SEO dan bagaimana menangani klien juga dibagikan oleh Diana dan Fifi. Mau ikut jaringan female blogger terbesar di Asia? Yuk daftar Blogger Babes Asia sekarang!
Rolly Pane (Country Manager Clozette Indonesia, Diana Rikasari, Fivi Alvianto dan Heidi Nazarudin di acara launching Clozette - Blogger Babes Asia di Indonesia
Ruangan ballroom yang dipadati oleh female bloggers Indonesia

Pembagian doorprize



Thursday, September 3, 2015

Gorgeous Quick Dry "Beauty Story" Nail Polish


Belakangan ini saya lagi gemar dengan nail polish atau biasa disebut kuteks. Dulu saya ngga begitu berani bereksperimen kuteks dengan warna-warna berani dan menyala. Paling-paling warna bening (yang sebenarnya ini untuk top coat hahaha), nude pink, nude cream, atau mocha. Tapi sekarang malah ngga terlalu minat dengan warna 'aman'; saya lebih senang dengan warna terang dan kontras seperti merah, biru, ungu, dan lainnya.

Baru-baru ini saya coba kuteks berlabel Beauty Story, merek produk kecantikan baru dari Indonesia. Dari beberapa rangkaian warna yang ada, saya pilih camelia, warna merah terang solid yang cantik! Pertama coba langsung jatuh cinta. Kuasnya enak dipakai, membuat pengaplikasian lebih mudah. Sekali poles, kuteks langsung merata di kuku sehingga tidak perlu berkali-kali poles. Sifat liquidnya juga cepat kering, sehingga hasilnya lebih rapi.

Selain warna camelia, ada banyak warna lainnya yaitu ungu, hijau muda (ini juga cantik banget!), oranye (perfect orange!), ungu shimmer, silver, nude pink, dan sebagainya. Satu buah harganya sangat terjangkau, hanya Rp25.000, ukuran 5 ml (hanya satu ukuran). Ukurannya yang kecil pas untuk dikoleksi, karena isi kuteks biasanya tidak cepat habis.

Kuteks Beauty Story ini saya beli di Metro Dept. Store. Gandaria City. Namun Beauty Story juga terdapat di departemen store atau mal lainnya.

Selamat bercantik-cantik ria dengan kuteks Beauty Story! :)

.cis.

Sunday, August 9, 2015

Menyusui Itu Capek! Bohong Kalo Ada Yang Bilang Ngga...

Sekarang lagi Pekan ASI. Pekan ASI ini ga cuma diperingati di Indonesia, namun juga di dunia. World Breastfeeding Week. Tema Pekan ASI tahun ini: Breastfeeding and Work, Let's make it work!
www.worldbreastfeedingweek.org
Berdasarkan data AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia), persentase Ibu yang memberikan ASI ekslusif bagi bayinya belum mencapai 50%. Sedih ya? Tetapi itu kenyataannya. Belum semua Ibu Indonesia mengerti arti pentingnya memberikan ASI bagi bayinya.

NIAT, NIAT, NIAT! 

Saya bingung dan sedih apabila ada Ibu yang cepat-cepat kasih susu formula kepada anak bayinya yang berusia kurang dari satu bulan dengan berbagai alasan (tentunya alasan non-medis). Apalagi kalo yang menganjurkan dokter anak atau obgyn. Rasanya pengen demo itu dokter. Kok tega banget ya menyurutkan kemauan dan kemampuan Ibu untuk menyusui.

Memberikan ASI memang membutuhkan perjuangan, dari mulai fisik maupun waktu. Apalagi bagi para Ibu bekerja kantoran. Perjuangannya dobel, selain berusaha supaya pekerjaannya bisa tetap lancar tapi juga menyempatkan waktu di sela-sela pekerjaan untuk tetap bisa memompa demi cita-cita memberikan ASI kepada bayinya hingga dua tahun. Kalau Ibu tanya gimana caranya supaya bisa berhasil, jawabannya cuma satu: NIAT!

Niat menyusui harus dimiliki dari sejak hamil. Tekad untuk menyusui harus dipupuk terus dari sejak janin di kandungan. Dengan begitu segala kekuatiran tentang menyusui bisa sirna begitu aja. Saya memiliki putra berusia 2 tahun 1 bulan, dan baru lepas ASI (disapih) kurang lebih 1,5 bulan yang lalu. Saya menyusui putra kecil saya dari usia 0 bulan hingga mendapatkan ASI ekslusif sampai 6 bulan, lalu lanjut terus hingga 1 tahun 4 bulan.

Ketika usia anak saya 1 tahun 4 bulan tersebut, stok ASI saya sudah sangat menipis, tidak cukup lagi untuk kebutuhan ASI hariannya. Lalu saya mengkombinasikannya dengan memberi susu formula tambahan. Namun saya tetap memompa dan menyusui anak saya di malam hari. Meski sekali mompa hanya dapat sekita 60 ml atau bahkan kurang dari itu, saya tetap semangat. Saya tetap memompa hingga anak saya usia 1 tahun 8 bulan.

Ketika lama-kelamaan hasil pompa saya sudah semakin sedikit (kurang lebih 30 ml sekali mompa). Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti memompa, kadang memompa 2 hari sekali ketika kira-kira ASInya sudah terkumpul dan bisa 'dipanen' hahaha. Meski berhenti memompa, saya tetap menyusui anak saya hingga dua tahun.

Menjelang dua tahun, saya mengurangi frekuensi menyusui dengan tujuan agar tidak terlalu sulit menyapihnya karena anak saya tipe yang doyan banget nyusu. Mungkin tagline dia saat itu "nenen is my favorit thing". Dari mulai menyusui tiap malam, lalu dua hari sekali, hingga seminggu sekali, hingga akhirnya dia lepas dari pelukan menyusui saya. Hiks.. sedih juga sih.. momen menyusui lenyap begitu saja. Tapi saya puas, puas karena dapat mewujudkan cita-cita dan menunaikan kewajiban dan tanggung jawab utama saya kepada anak saya: menyusui hingga dua tahun!

Mungkin ngga semua Ibu berhasil bisa menyusui hingga dua tahun, ada yang kurang ada yang lebih. Ngga masalah, yang penting tetap berusaha dan niat menyusui tetap dijalankan. Sekarang ini kampanye dan dukungan untuk menyusui terus digalakkan oleh berbagai pihak, dari mulai pemerintah, LSM hingga individu seperti saya. Dari mulai memberi penyuluhan tentang menyusui hingga menyediakan ruang laktasi bagi Ibu menyusui.

Tapi jangan salah, kampanye menyusui ini bukan ditujukan untuk membanggakan diri atau merasa ekslusif bagi Ibu yang berhasil menyusui, atau mengecilkan para Ibu yang tidak berhasil menyusui. Menyusui bayi bukan cuma supaya dibilang keren, lho, Bu! Tetapi karena mendapatkan ASI itu adalah hak bayi, dan tanggung jawab kita sebagai Ibu untuk memenuhinya. Jangan bilang "Situ enak, ASInya banyak, saya nih ASInya tipis banget." Semua masih bisa diusahakan kok. Banyak tips seputar menyusui yang beredar di internet yang bisa dibaca, belum lagi tips dari orang tua kita yang sudah lebih berpengalaman. Niat yang ada tinggal diwujudkan, lakukan dengan tekun, ga perlu pake stres, ga usah banyak mikir, ASI pasti ngalir. Ngga mungkin Tuhan pilih-pilih wanita A atau B atau C saja yang dikaruniai dengan ASI melimpah, sementara wanita lain ngga. Kalaupun ASI kita sedikit, tidak perlu minder. Kuncinya satu, tetap menyusui. Ada demand, ada supply. Itu aja yang perlu dipegang.
Photo: Aurimas Mikalauskas (Flickr)
Menyusui itu capek! Bohong banget kalo ada yang bilang ngga! 
Siapa yang bilang menyusui itu ngga capek? Kalau ada Ibu yang bilang menyusui itu ngga capek, saya mau dong kenalan, saya mau kasih selamat dan mau acungi jempol atas staminanya yang prima.

Apa sih di dunia ini yang ga bikin capek? Kerja pasti capek, hamil juga capek, badan pegal-pegal. Jadi kalo menyusui itu capek, ya udah wajar. Saya maklum kalo ada Ibu yang mengeluh capek menyusui. Pinggang kaku, menyusui sambil duduk maupun tidur miring. Rasanya mau patah. Capek yang lain lagi bangun tengah malam atau subuh ketika bayi minta nenen. Capek lainnya lagi yaitu harus cuci botol-botol ASIP, pompa, dll, dan menyiapkan semua perangkat pompa untuk ke kantor setiap hari.

Sebelumnya sejak kecil, saya belum pernah memiliki ART. Ibu saya mengerjakan semua sendirian, beliau adalah Ibu Rumah Tangga yang saya banggakan, panutan saya. Dari anak saya usia 3 bulan, Ibu saya membantu merawat anak saya ketika saya bekerja di kantor. Hingga usia anak 1 tahun 3 bulan, saya akhirnya mendapatkan ART untuk merawat anak saya. Puji Tuhan ARTnya baik dan awet hingga sekarang (semoga sampai seterusnya). Jadi dari anak saya lahir hingga berusia 1 tahun 3 bulan, saya cukup capek dengan aktivitas memompa dan menyusui.

Saya cuti dari hobi bersama suami sejak pacaran: nonton film di bioskop, selama hampir satu tahun. Saya ga punya waktu banyak untuk melakukan hobi, ber-me-time ria, luluran, pasang kuteks, maskeran, ke salon, facial, kongkow sama teman-teman karena saya keburu capek. Capek dengan rutinitas sehari-hari yang seakan berkejaran dengan waktu. Kalo pulang agak telat dari kantor, saya ga sabar nunggu angkutan umum yang lama datengnya, pake acara ngetem. Saya pasti langsung cegat taxi, karena PR saya di rumah yaitu: mandi, makan, cuci-cuci botol ASIP, mompa dan menyusui anak, masih setia menunggu. Weekend? Lebih capek lagi, saya harus cuci baju anak saya, momongin, dan tak lupa mompa. Mompa saat weekend itu lumayan banget buat nambahin stok.

Dari sederet rasa capek yang saya alami, ada rasa bahagia yang tak tergantikan. Semua keletihan terbayar melihat wajah puas anak saya ketika menyusu dan tertidur lelap. Masak sih, Ibu ngga mau ngerasain bahagia seperti yang saya rasain?

Menyusui = Prestasi


Sekali lagi, saya sharing sekaligus kampanye tentang menyusui ini bukan untuk menyombongkan diri, tapi untuk memotivasi diri dan para Ibu yang membaca blog saya. Saya sadar, mungkin ada banyak kendala yang ga saya alami, namun Ibu lainnya alami, ketika berjuang memberi ASI bagi bayinya.

Saya termasuk yang beruntung didukung seluruh keluarga untuk memberi ASI. Namun ada beberapa cerita yang saya temui, dimana keluarga Ibu ASI belum sepenuhnya mendukung Ibu untuk memberi ASI kepada bayinya.

Misalnya ada mertua yang bilang: "Anakmu itu laki, ngga akan cukup kalo nenen. Anak laki itu rakus kalo nenen, kasih susu formula juga dong!", ada lagi yang bilang "Anakmu kasih air putih kek, seret itu nenen terus." Belum lagi kalo ASI Ibu belum keluar pasca melahirkan, keluarga udah bisik-bisik aja "Udah kasih susu formula aja, kasihan bayinya haus, nangis terus."

Semua itu sebenarnya karena mereka belum mengerti betul dan belum mendapatkan informasi yang lengkap tentang menyusui. Nah, di sini Ibu perlu memperlengkapi diri dengan pengetahuan tentang menyusui agar ga mudah emosi dan stres mendengar semua celoteh pihak luar, dan bisa menjawab serta menjelaskan fakta yang sebenarnya tentang menyusui.

Untuk menyusui diperlukan motivasi, baik dari diri sendiri maupun pihak luar. Tapi yang paling utama Ibu harus bisa memotivasi diri sendiri. Ibu bisa bilang sama diri sendiri bahwa menyusui itu prestasi bagi Ibu, karena berhasil menaklukkan segala tantangan untuk terus mewujudkan cita-cita.

Ibu boleh bangga sama diri Ibu supaya Ibu tetap memiliki kekuatan untuk terus menyusui. Ibu bisa memberikan reward terhadap diri sendiri, misalnya satu hari spa di salon untuk menghilangkan capek sehingga tubuh tetap fit. Ibu juga bisa minta suami untuk memberi Ibu cuti dari tugas rumah tangga sesekali sebagai hadiah. Masih banyak hal lainnya yang bisa Ibu lakukan untuk memotivasi diri agar terus dapat melanjutkan perjalanan menyusui hingga dua tahun.

Memberi ASI = Berhemat

Memberi ASI bagi bayi itu manfaatnya segambreng. ASI memiliki kandungan DHA paling tinggi dari makanan apapun. ASI memiliki nutrisi paling baik bagi bayi. ASI itu makanan dan minuman tanpa efek samping, aman bagi pencernaan bayi. ASI juga penting untuk membentuk daya tahan tubuh bayi, kesehatan, tumbuh kembang dan kecerdasan otak bayi.

Dari sekian banyak alasan ilmiah tentang manfaat dan kebaikan ASI bagi bayi, ada manfaat yang semua Ibu pasti suka: ASI itu hemat! Ngga perlu dibeli, namun priceless, sangat berharga. Kalau masih susah terima tentang kebaikan ASI dari segi manfaat, mikir itu aja dulu yang paling gampang, menyusui itu hemat.

 Bayangin kalo Ibu memberi ASI tanpa tambahan susu formula kepada bayi Ibu selama dua tahun, berapa banyak uang yang sudah Ibu hemat?

Ayo (Semangat) Menyusui!

Buat para Ibu, mari kita sama-sama mengkampanyekan pemberian ASI kepada bayi. Kalau kita beri ASI pada bayi kita, yang untung kita juga kok, Bu. Bayi jadi ga gampang sakit, kita juga lebih tenang. Kalo anak gampang sakit kan kita juga yang repot dan kuatir. Kalau anak Ibu cerdas nantinya, yang senang Ibu juga kan? Ayolah Bu, saya ga nemu sedikitpun alasan lagi bagi para Ibu untuk ga menyusui bayi Ibu.

Mari kita sama-sama wujudkan anak sehat, generasi sehat. Ibu pasti bisa! Semangat terus yaaaaaaaaaaaaaa!!!

#ayomenyusui

.cis.

Saturday, August 8, 2015

Bakmi GM Delivery: Solusi Makan Siang Di Saat Ngga Punya Waktu Makan Siang

Siapa yang ga setuju kalo Jakarta sekarang makin macet? Jumlah kendaraan bertambah dibarengi dengan pembangunan sarana transportasi yang sedang berjalan di mana-mana. Bagus sih, semoga nantinya Jakarta bisa tambah friendly, berkurang macetnya.

Macetnya Jakarta menuntut warganya untuk lebih time-efficient. Harus pintar ngatur waktu, apalagi buat pekerja kantoran seperti saya. Macet udah pasti ga bisa dihindari, jam berangkat dan pulang kantor barengan dengan ribuan pekerja lainnya. Kalo hari kerja yang ditunggu-tunggu tiba (baca: Jumat), sesekali pengen juga makan siang di luar sama teman-teman sambil cuci mata. Tapi kalo sibuk, jangankan sempat keluyuran makan siang, ke kantin juga rasanya ga punya waktu. Alhasil ga jadi ikut meramaikan kemacetan jam makan siang di luar, makan di meja aja sambil menatap monitor yang LCD-nya udah mulai menguning ini, hiks.

Ngomong-ngomong soal makan siang, itu juga harus efisien. Kalo bisa makan siang setiap hari udah siap di depan meja. Beruntung bagi beberapa karyawan yang perusahaannya punya layanan katering dari perusahaan, jadi ga perlu pusing untuk cari makan siang. Kebayang kalau ada meeting jam 2 siang, berangkatnya jam 1, jam 12 belum selesai bikin proposal, jadi makan siangnya kapan? Dalam kondisi seperti itu saya biasanya membungkus makanan dari kantin dan makan di perjalanan. Mau ngga mau begitu, dari pada ngga makan sama sekali.

Untung ada layanan BAKMI GM DELIVERY.  Layanan pesan antar makanan ini bisa menjadi penyelamat perut di saat sibuk. Kalau udah kebaca jadwal harian akan padat, saya langsung order via telepon (021) 1.500.677 di pagi hari untuk memesan makanan diantar pada saat makan siang. Dengan begitu saya bisa makan tenang, kerjaan tetap jalan.
Sumber: www.bakmigm.com
Selain penyelamat perut di saat sibuk di kantor, Bakmi GM Delivery juga menjadi pilihan tepat saat ngga masak di rumah, dari pada repot cari makan ke luar, mending langsung telepon (021) 1.500.677. Bakmi GM Delivery juga pernah menjadi solusi ketika saya harus menyediakan makan siang untuk meeting mendadak. Jam 09:30 saya telepon Bakmi GM Delivery, jam 11:30 makanan sudah sampai, beres! Pernah juga suatu kali saya dan tim lagi bekerja di kantor klien, kerjaan ngga bisa ditinggal tapi perut udah berontak. Solusinya? Semua sepakat pesan antar Bakmi GM!
  
Semua menu yang ada di resto  Bakmi GM bisa dipesan via layanan delivery. Jadi ga perlu kuatir, menu andalan Bakmi Brokoli Sapi Lada Hitam tetap bisa dinikmati tanpa harus mampir ke outletnya. Sampai tempat bakmi masih hangat, lezatnya ngga beda dengan makan langsung di resto.

Selesai sudah, ngga ada lagi alasan untuk ngga milih Bakmi GM Delivery sebagai solusi makan siang di saat ga punya waktu makan siang.
Bakmi Brokoli Sapi Lada Hitam Favorit. Sumber: www.bakmigm.com

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Review Bakmi GM dan menjadi salah satu pemenang di periode III.
http://bakmigm.com/news/news/detail/pemenang-blog-competition-periode-iii.html

Friday, July 10, 2015

6 Pertimbangan Dalam Memilih Bank

Photo: dok. pribadi
Di era digital serba canggih ini, dunia perbankan dituntut untuk memanjakan nasabahnya dengan berbagai kemudahan bertransaksi. Mulai dari layanan internet banking hingga aplikasi mobile. Ga cuma itu, masyarakat kini semakin cerdas dan selektif dalam memilih bank baik untuk sekedar transaksi harian, menyimpan uang hingga berinvestasi.

Buat saya pribadi, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan sebelum membuka rekening atau mengajukan permohonan kartu kredit. Berikut di antaranya:

1. Terpercaya
Terpercaya itu syarat yang ngga bisa ditawar. Bank harus well-known, sehat, ngga bermasalah, serta memiliki banyak kantor cabang dan ATM. Banyaknya cabang dan ATM menjadi salah satu tanda bank dekat dengan nasabah, dan mudah diakses.

2. Bunga kompetitif
Saya sudah pernah membandingkan bunga deposito di tabungan A dan B. Tidak semua bank besar memberi bunga menarik. Bunga kompetitif menjadi pertimbangan penting ketika uang yang diinvestasikan di bank tidak terlalu banyak.

3. Tawaran diskon dan merchant
Smart-shopping itu udah wajib, smart-banking apalagi. Smart-banking menjadi smart-shopping ketika saya bisa memanfaatkan berbagai tawaran diskon yang disediakan bank. Lebih menyenangkan lagi ketika merchant-merchant bank banyak dan umum ditemui. Contoh, diskon makan di restoran favorit, bukan hanya di resto hotel bintang lima. Cashback di apotik langganan, bukan hanya pemeriksaan tertentu di laboratorium yang mahal. Potongan harga di supermarket tempat belanja bulanan, dan sebagainya. Artinya, diskon yang disediakan dekat dengan kebutuhan sehari-hari.

4. Layanan e-banking
Layanan e-banking mencakup internet banking dan mobile banking. Mudah serta aman bertransaksi lewat internet banking dan mobile banking kapan saja, di mana saja. Apabila ada kendala, mudah dilaporkan dan cepat ditanggapi.

5. Fasilitas setor tunai
Mungkin bagi sebagian orang fasilitas ini tidak terlalu penting. Tetapi bagi saya ini penting. Lumayan lho kalau harus tarik dan setor antar bank secara rutin, fasilitas setor tunai dapat menjadi solusi menghindari biaya admin bank, serta mengantri di kantor cabang.

6. Fasilitas kartu kredit
Hampir semua bank sekarang menerbitkan kartu kredit. Tapi kartu kredit yang paling asik itu yang gratis iuran tahunan seumur hidup, banyak promo, dan upgrade limit tanpa diminta. Poin rewardnya berlaku seumur hidup (tanpa expired) dan terakumulasi ke tahun berikutnya. Ga semua bank memiliki layanan kartu kredit seperti ini.

Setiap nasabah pasti memilih bank yang memiliki paling banyak keuntungan. Hingga kini, CIMB Niaga satu-satunya bank yang memiliki fasilitas terbaik menurut saya. Rekening Ponsel (Rekpon) CIMB Niaga salah satunya. Nasabah disuguhi berbagai tawaran menarik seperti diskon ataupun cashback dengan bertransaksi menggunakan Rekpon. Sebut saja, cashback 30% pembayaran dengan Rekpon belanja di Apotik Century, diskon makan di Italian resto Gio Vanese, dan lain sebagainya. Merchant Rekpon pun semakin banyak, dari restoran, outlet hingga apotek. Rekpon satu-satunya fasilitas yang memungkinkan untuk tarik tunai di ATM tanpa kartu ATM. Jadi saat ATM tertinggal di rumah, tak perlu kuatir karena tetap bisa tarik tunai.

Sama halnya dengan kartu kredit. Asalkan bayar tagihan tepat waktu, tidak pernah ada tunggakan dan histori transaksi baik, limit kartu kredit akan dinaikkan oleh bank secara otomatis, tanpa diajukan oleh pemegang. Jadi bank betul-betul menganalisa dan memberi reward kepada setiap pemegang kartu kreditnya.

Keuntungan lainnya yang sudah pernah saya rasakan antara lain promo Buy 1 Get 1 tiket nonton di Cinema XXI, free popcorn pembelian tiket dengan debit CIMB Niaga di Cinema XXI, tukar poin reward dengan tiket nonton di Blitz Megaplex, tukar poin reward dengan satu kaleng cookies di Harvest setiap hari, cash back 5% belanja di Lotte Mart (berlaku setiap hari) serta berbagai diskon makan di restoran favorit.



.cis.
© Stories from An Affogato Lover
Maira Gall