Wednesday, May 25, 2016

Ide Kreatif: Melukis Dengan Cat Warna Buatan Sendiri

Melukis dengan cat warna buatan sendiri (dok. pribadi)

Suatu kali putra kecil saya penasaran melihat cat air milik saya dan ingin mencobanya. Kuatir dengan kandungan kimia dan aroma cat air yang cukup menyengat untuk anak-anak, muncul ide untuk membuat cat warna. Setelah itu saya mengajaknya melukis dengan cat warna buatan sendiri. Sejak saatu itu melukis menjadi salah satu kegiatan favoritnya.

Bahan dasar cat warna buatan sendiri sangat mudah didapat, yaitu tepung terigu, pewarna makanan dan air. Saya selalu melibatkan anak saya dari proses membuat adonan, hingga melukis. Saya memintanya untuk meneteskan pewarna ke dalam adonan tepung, lalu mengaduknya, sehingga tercipta sebuah proses mengasyikkan yang menjadi pengalaman dan pengetahuan baru baginya. Setelah warna tercampur, kami pun mulai melukis.

Puas dengan mengaplikasikan cat dengan kuas, sisa adonan cat warna warna kami tuang pelan-pelan ke atas kertas sehingga tercipta tetesan-tetesan timbul (embos). Tetesan cat warna tersebut saya jemur sebentar hingga agak kering, lalu saya kelupas kembali dan bisa dibentuk seperti playdough.

Sesekali saya bereksperimen dengan beberapa jenis tepung. Adonan cat warna dengan tepung terigu menghasilkan cat yang lebih basah, sangat cocok untuk melukis atau mewarnai. Adonan dengan campuran 50% tepung beras menghasilkan cat agak mudah kering. Sedangkan adonan dengan 100% tepung beras menghasilkan cat warna yang langsung mengering (beku) ketika diaplikasikan di atas kertas sehingga sulit untuk dicoret-coret, namun sangat baik untuk membentuk playdough (tidak perlu dijemur).

Adonan cat warna buatan sendiri sangat aman bagi anak-anak jika terkena kulit atau tak sengaja masuk ke dalam mulut karena tidak mengandung kimia berbahaya dan tidak berbau.

Penasaran ingin mencoba di weekend ini? Yuk ikuti langkah mudahnya berikut ini.

Bahan untuk membuat cat warna:
- 1 sdm tepung terigu
- Air secukupnya
- Pewarna makanan beberapa warna (minimal dua warna agar menarik)

Perlengkapan:
- Wadah untuk tempat cat
- Kuas 2 buah (untuk ibu dan si kecil)
- Kertas tebal sebagai medium lukis
 
Cara membuat:
- Campurkan 1 sdm tepung terigu dengna air secukupnya hingga kental. Adonan jangan terlalu cair agar maksimal saat diaplikasikan.
- Bagi adonan ke beberapa tempat, lalu teteskan satu pewarna makanan ke satu wadah yang sudah berisi adonan tepung.
- Cukup dua tetes pewarna untuk hasil warna lebih muda, dan beberapa tetes lagi untuk mendapatkan warna lebih tua.

Tips:
1. Campur dua warna untuk menghasilkan satu warna baru.
2. Pewarna makanan bisa didapat di pasar tradisional atau supermarket. Umumnya pasar tradisional hanya menyediakan warna yang umum saja seperti hijau dan merah. Biru, ungu dan lainnya bisa dicari di supermarket.

Selamat mencoba!

Tuang cat warna untuk dibuat lukisan abstrak atau playdough (dok. pribadi).

Hasil kreasi lukisan (dok. pribadi).

Seru dengan cat buatan sendiri (dok. pribadi).

Hasil "cetakan tangan" (dok. pribadi).
Nantikan tips lainnya di ciscachocolate.blogspot.com
Instagram: sisca.christina

Thursday, February 11, 2016

Ini Arti Kode Error Pada Mesin Cuci Samsung Anda

www.samsung.com/id
Pernah mengalami cuci baju dengan mesin cuci Samsung, lalu di tengah mencuci mesin berbunyi ting ting ting sambil menampilkan kode error pada layar mesin cuci? Kalau iya, ngga usah kuatir, mesin cuci Ibu tidak rusak. Justru mesin cuci sedang memberi sinyal adanya kendala ketika unit mesin cuci Ibu sedang beroperasi. Ini bagus lho, supaya kita selalu memerhatikan beberapa hal dalam mencuci agar lancar dan mesin cuci tidak cepat rusak.

Berikut arti kode error pada mesin cuci Samsung Ibu:

dE (door error): pintu mesin cuci belum tertutup rapat.
4E (water supply error): coba cek keran Ibu, mungkin belum dibuka, atau tekanan air kecil. Mesin cuci memerlukan tekanan air 50-800 kpa dan harus terbuka hingga Ibu selesai mencuci.
5E (drain error): pastikan selang drainase terpasang dengan benar. Secara berkala, bersihkan saringan drainase agar tidak ada sumbatan di saluran pembuangan.
UE (unbalance error): perhatikan posisi mesin cuci, apakah sudah berdiri dengan stabil (tidak pincang), atau cucian kusut. Bila demikian, hentikan sebentar proses mencuci, keluarkan cucian kemudian susun dan masukkan kembali ke mesin cuci.
Sud (foaming detected): mesin mendeteksi kelebihan busa. Mesin cuci otomatis tidak memerlukan deterjen dengan busa melimpah, selalu gunakan deterjen sesuai dengan kebutuhan mesin cuci Ibu. Kalau Ibu menggunakan deterjen berbusa terus-menerus, mesin bisa cepat rusak lho!
Uc (power error): jika ini terjadi, artinya tegangan listrk di rumah Ibu sedang tidak stabil. Gunakan stabilizer, atau pindahkan ke stop kontak single yang menempel pada dinding langsung.
LE atau LE1 (water leakage error): kebocoran dapat terjadi karena busa akibat terlalu banyak deterjen, penutup filter pada pump drain terlepas atau ada kebocoran di selang pembuangan.
OE & OF (overflow error): ini terjadi ketika pendeteksi level air tidak berfungsi sehingga pasokan air bekerja terus-menerus, atau pastikan selang pembuangan tidak terlipat agar air keluar dengan lancar.

Mulai sekarang, hindarilah penyebab error agar mesin cuci tetap awet dan kegiatan mencuci tetap lancar. Selamat beraktivitas!

Sumber: www.samsung.com/id

Tuesday, January 12, 2016

5 Ciri Bus Kota Sudah Tidak Layak Bagi Masyarakat

Foto: http://faridwajdi03.blogspot.co.id
Pernahkah kamu perhatikan, sejak transportasi berbasis aplikasi seperti Gojek, GrabBike, Uber, GrabCar dan seterusnya, beredar di Jakarta, transportasi umum khususnya bus kota semakin sepi penumpang? Ojek aplikasi rupanya telah merebut hati penduduk Jakarta sebagai solusi menembus kemacetan sehari-hari. Gimana ngga? Dengan tarif yang relatif terjangkau, penumpang diberi banyak kemudahan bertransportasi: tinggal klik, langsung dijemput. Tidak perlu menunggu lama di jalan untuk menyetop angkutan umum, tidak perlu menawar harga, kendaraan tidak ngetem dan lebih cepat sampai. Singkatnya, ojek aplikasi rasanya pilihan yang lebih efisien dibanding bus kota saat ini.

Belum lama ini saya naik bus metro mini dari terminal Blok M menuju Arteri Pondok Indah. Normalnya, untuk jarak yang tidak terlalu jauh itu, dengan motor bisa sampai 15 menit, dengan mobil kira-kira 25 menit. Kalau dengan bus (sudah dengan macet) seharusnya maksimal 40 menit. Tapi waktu itu butuh 1 jam 5 menit buat saya sampai di tujuan! Mengapa? Karena bus tersebut mengetem selama lebih dari 15 menit di terminal, lalu jalan pelan-pelan (seharusnya bisa lebih cepat), kemudian berhenti sebentar-sebentar dan pasrah ketika sudah harus bertemu macet.

Setelah sekian kali mengalami kejadian tak efisien dengan bus kota, saya jadi berpikir, dengan kondisi bus kota saat ini, masih layakkah angkutan umum seperti metro mini dan kopaja sebagai sarana transportasi yang memadai bagi masyarakat?

1. Selalu Ngetem
Kejadian bus ngetem bukan baru terjadi di era transportasi berbasis aplikasi seperti sekarang, tapi sudah sejak dulu. Ironisnya hal tersebut tidak berubah juga sampai sekarang. Sebagai masyarakat awam saya mencoba memahami bahwa supir angkutan umum harus mengejar setoran yang menjadi sumber penghasilan harian mereka. Namun di satu sisi sebagai pengguna angkutan umum, saya memiliki hak untuk cepat sampai tujuan dengan angkutan yang saya tumpangi, kecuali ada alasan macet atau hal lain di luar kendali supir dan saya. Letih dengan urusan ngetem-mengetem, kini saya memutuskan, saya tidak dapat lagi mentolerir bus ngetem karena saya tidak mau membuang waktu.

2. Banyak Pengamen
Saya rasa banyak yang setuju bahwa pengamen bus kota itu mengganggu. Mengganggu di sini sudah tidak lagi soal suara sumbang atau ketidakpiawaian pengamen mengumandangkan lagu-lagu hits masa kini, namun lebih kepada perlakuan pengamen yang kasar, mengganggu penumpang dengan colekan atau celotehan iseng yang mengharapkan receh penumpang. Suatu kali saya sedang pusing dan tertidur, dengan entengnya pengamen nepuk-nepuk bangunin saya nyodorin sumbangan. Saya kaget sekali dan spontan protes dengan kelakukan mereka. Rasanya hal tersebut juga susah untuk saya tolerir lagi.

3. Ugal-ugalan
Bagi pengguna setia bus kota, pernah ngga mengalami naik bus ketika jalan sedang lowong, supir nyetirnya lambat, ketika sudah terjebak macet, supir gas rem gas rem mau cepat nyeruduk. Tiba-tiba bus masuk jalur busway, lalu keluar lagi dengan cara diagonal membelah kendaraan lain di depan dan di belakangnya. Seperti ini nih..
Foto: detikfoto
Foto: Tribunnews
Foto: merdeka.com
4. Dioper/Diturunin Sebelum Tiba di Tujuan
Tidak jarang bus kota berangkat dan berhenti bukan dari jalur yang seharusnya. Terkadang bus menurunkan penumpang di pinggir jalan dengan alasan macet, lalu dioper ke bus lain. Pernah juga terjadi, kira-kira 100 meter sebelum tiba di tujuan, penumpang diturunkan dan diminta berjalan ke terminal sementara bus memutar untuk mengambil penumpang ke arah sebaliknya. Penumpang protes pun supir tidak peduli.

5. Polusi
Polusi memang tidak dirasakan langsung oleh penumpang, tapi terasa menyesakkan dada pejalan kaki yang dilewati oleh bis kota. Asap yang dikeluarkan hitamnya bukan main, bau dan menjadikan udara tidak layak buat dihirup. Kalo soal polusi sebenarnya bukan hanya salah bus kota, namun hampir bisa dipastikan asap dari bus kotalah yang paling hitam dan bau.

Dari kelima hal tersebut saya rasa wajar jika masyarakat beralih ke transportasi berbasis aplikasi, mengingat transportasi tersebut mengutamakan efisisiensi waktu, lebih cepat sampai, tidak buang-buang waktu dan mampu menjadi solusi macet. Lalu, mau dibawa ke mana metro mini dan kopaja?

Monday, January 11, 2016

Pemberitahuan Peningkatan Layanan CIMB Niaga (15-17 Januari 2015)

CIMB Niaga pada tanggal 15-17 Januari 2015 akan melakukan peningkatan layanan yang berdampak pada keterbatasan kegiatan transaksi baik di cabang maupun online. Info lengkapnya bisa cek di www.cimbclicks.co.id


Wednesday, November 18, 2015

Pengalaman Pertama Naik KRL Commuter Line Jabodetabek

Stasiun Palmerah ada ruang menyusuinya lho!
Kali ini saya mau share pengalaman naik Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line Jabodetabek. Dulu saya ga pernah terpikir untuk menjadikan kereta sebagai transportasi utama saya untuk bekerja. Pertama, karena lokasi tempat tinggal saya dulu cukup dekat dengan kantor dan terjangkau dengan angkutan umum (bis). Kedua, saya ngeri dengar pengalaman teman-teman roker (rombongan kereta) dimana menurut mereka naik kereta itu penuh perjuangan, desak-desakan, penuhnya pol sampe ga ada ruang buat nengok kiri kanan. Belum lagi dorong-dorongannya, harus bertarung dengan penumpang lain yang ga sabaran, sikut sana sikut sini. Mana setiap transit di stasiun cuma 5 menit, kalo ga gerak cepat bisa kebablasan ke stasiun berikutnya.

Tapi semua itu berubah ketika saya pindah lokasi tempat tinggal ke wilayah yang lebih jauh dari tempat saya bekerja. Sebelumnya saya tinggal di dekat mal Gandaria City, ngga perlu kereta, ga perlu ojeg, macet juga ga seberapa. Naik motor ke Gatot Subroto 35 menit. Ke mana-mana ga perlu kendaraan pribadi. Ada macam-macam angkutan umum yang bisa saya gunakan dari bus hingga bajaj. Akses strategis, bebas banjir. Buat saya yang sejak kecil sudah tinggal di sini: this is the best residential area ever! (Lho kok jadi kayak agen properti? Lol!)

Sekarang adalah hari keempat saya tinggal di lokasi yang baru, di Pondok Aren. Sebenarnya ngga jauh-jauh banget sih, tapi lumayan nambah 30-40 menit dari Gandaria City (dengan motor) atau 45-60 menit dengan mobil. Jarak tempuh yang lebih panjang ini membuat saya mencari upaya konkrit buat cepat sampe rumah (biar cepat ketemu anak ^_^).

Beberapa teman kantor yang tinggal di Bintaro atau Pamulang memilih naik kereta sebagai transportasi utama. Saat mendengar testimoni mereka bahwa naik kereta itu cuma 15-20 menit dibanding dengan naik mobil atau angkutan umum (bis/angkot) yang bisa sampe 1,5 jam dengan jarak tempuh yang sama, saya langsung tertarik buat mencoba. Gimana engga, bisa hemat waktu sampai berkali-kali lipat.

Pendeknya, setelah cari info sana-sini saya penasaran coba pulang kantor naik kereta. Lalu sampailah saya di stasiun Palmerah hari Senin lalu tepatnya pk. 18.35, naik Gojek (ehm, Gojek dapat branding nih :D). Begitu sampai di stasiun, saya berdecak kagum melihat bangunan stasiun yang bagus. Ga nyangka kalo stasiunnya sebagus ini (maap sebelumnya, ga maksud meremehkan, tapi beberapa stasiun yang pernah saya lewatin itu jarang ada yang bagus, contoh stasiun Kebayoran Lama). Karena ga mau kehilangan momen, saya foto-foto aja sementara calon penumpang lain buru-buru setengah berlari ngejar jadwal kereta.

Sampai di dalam, saya menuju loket. Di situ dicantumkan harga tiket Rp2.000 untuk 25 km pertama dan Rp1.000 untuk km selanjutnya. Sangat terjangkau. Ongkos bis aja udah Rp4.000 untuk jarak tempuh relatif dekat. Saya membayar tiket menggunakan e-toll card Mandiri. Bagi yang baru pertama kali menggunakan kereta dengan kartu bayar elektronik, diharuskan mengaktivasi kartu di box yang tersedia. Caranya mudah, dekatkan kartu, kemudian alat tersebut akan meng-scan kartu kita. Apabila sudah muncul saldo Rupiah di dalam kartu tersebut, artinya kartu sudah bisa digunakan untuk naik kereta. Setelah itu, tempelkan kartu di palang otomatis (seperti mau naik busway), dan penumpang siap menuju peron untuk naik kereta yang dituju.

Setelah itu saya menuju ke bawah dengan eskalator menuju Peron 1. Saya akan turun di Stasiun Jurangmangu. Keretanya penuh luar biasa. Namun beberapa teman bilang naik kereta di atas pk. 18:30 sudah cukup lengang, lebih penuh lagi di jam pulang kantor, pk. 17:00 - 18:00. Lalu saya naik kereta (lebih tepatnya nyempil), dan berhasil berdiri tepat di depan pintu kereta. Jam menunjukkan pk. 19:00. Ga lama berjalan, kereta sudah sampai di Stasiun Kebayoran Lama, transit sebentar, lalu lanjut lagi dan transit di Stasiun Pondok Ranji. Setelah Pondok Ranji, kereta berhenti di Stasiun Jurangmangu tempat tujuan saya. Lalu saya lanjut foto-foto stasiun Jurangmangu. Sebenarnya pengen selfie di dalam kereta tapi belum kesampean karena kereta penuh :D

Enaknya, Stasiun Jurangmangu ini tepat bersebelahan dengan Bintaro Jaya Echange (BXchange). Jadi dari stasiun bisa langsung ngemall hehehe. Satu hal yang disayangkan, tidak ada angkutan umum di area Stasiun Jurangmangu, jadi harus naik ojek atau taxi. Akhirnya saya memilih panggil Uber menuju tempat tinggal. Hanya 15 menit dari BXchange ke Pondok Aren. Total waktu perjalanan saya adalah sbb:
Gatot Subroto - Stasiun Palmerah: 15 menit dengan Gojek
Stasiun Palmerah - Stasiun Jurangmangu: 20 menit dengan kereta
Stasiun Jurangmangu - Pondok Aren: 15 menit dengan Uber
Total waktu perjalanan:
Dengan kereta: 50 menit.
Dengan motor: 60-65 menit
Dengan taxi/mobil/angkutan umum: 90-120 menit.

Nah, bagi yang mau coba naik kereta, monggo.. sangat direkomendasikan sebagai solusi transportasi jarak jauh, anti macet dan relatif terjangkau.

Berikut foto-foto hasil jepretan saya ala kadarnya. Semoga bermanfaat ^_^.
Jembatan menuju stasiun
 

Stasiun Palmerah


Menuju loket pembelian karcis
Loket pembelian karcis (antrinya teratur lho!).
Palang pintu otomatis untuk masuk peron.
Calon penumpang
Stasiun Jurangmangu

Stasiun Jurangmangu

Stasiun Jurangmangu
Exit Mal Bintaro Exchange dari Stasiun Jurangmangu
Bintaro Exchange berlokasi tepat di samping Stasiun Jurangmangu
.cis.

Wednesday, November 4, 2015

Live Like Chocolate

This small tip might make your life happier. Simply live your life like a chocolate.
live like chocolate

Wednesday, October 7, 2015

Peluncuran Blogger Babes Indonesia

Kini Blogger Babes Asia hadir di Indonesia! Selasa hari ini (06/10), ballroom Hotel Intercontinental Midplaza dipadati oleh para female bloggers yang antusias mengikuti seminar dan gathering di acara Launching Blogger Babes Indonesia yang diselenggarakan oleh Clozette Indonesia. Hadir sebagai pembicara, dua blogger sukses Indonesia, Fifi Alfianto dan Diana Rika Sari, serta founder Blogger Babes Asia, Heidi Nazarudin, berbagi pengalaman dan tips kepada para blogger Indonesia. Acaranya sangat menarik. Heidi berbagi tips bagaimana menjadi blogger sukses hingga dapat memonetisasi blog pribadinya. Tips SEO dan bagaimana menangani klien juga dibagikan oleh Diana dan Fifi. Mau ikut jaringan female blogger terbesar di Asia? Yuk daftar Blogger Babes Asia sekarang!
Rolly Pane (Country Manager Clozette Indonesia, Diana Rikasari, Fivi Alvianto dan Heidi Nazarudin di acara launching Clozette - Blogger Babes Asia di Indonesia
Ruangan ballroom yang dipadati oleh female bloggers Indonesia

Pembagian doorprize



© Stories from An Affogato Lover
Maira Gall